Jumat, 12 September 2008

Keperawatan Maternitas: Metode Kangguru

Keperawatan Maternitas: Metode Kangguru

Keperawatan Maternitas: Metode Kangguru

Keperawatan Maternitas: Metode Kangguru

Keperawatan Maternitas: BAYI BARU LAHIR

Keperawatan Maternitas: BAYI BARU LAHIR

Keperawatan Maternitas: CONTOH KASUS MATERNITAS POST PARTUM

Keperawatan Maternitas: CONTOH KASUS MATERNITAS POST PARTUM

Keperawatan Maternitas: CANCER SERVIC

Keperawatan Maternitas: CANCER SERVIC

Keperawatan Maternitas: MASA KEHAMILAN

Keperawatan Maternitas: MASA KEHAMILAN

Keperawatan Maternitas: CISTOMA OVARII

Keperawatan Maternitas: CISTOMA OVARII

Keperawatan Maternitas: CA MAMAE

Keperawatan Maternitas: CA MAMAE

CISTOMA OVARII

TIJAUAN PUSTAKA
Definisi
Kista ovarii yaitu suatu kantong abnormal berisi cairan atau setengah cairan yang tumbuh dalam indung telur (ovarium). Kista ovarium biasanya tidak bersifat kanker, namun walaupun kista tersebut bersifat kecil diperlukan perhatian yang lebih lanjut untuk memastikan kista tersebut tidak berupa kanker.(www.gogle.com).
Kista adalah tumor yang berisi cairan.kista ovarium dalam kehamilan dapat menyebabkan nyeri perut oleh karena putaran tangkai, atau perdarahan.kista ovarium putaran tangkai atau perdarahan biasanya terjadi pada trimester pertama kehamilan, berupa massa nyeri tekan diabdomen bawah.kadang-kadang kista ovarium ditemukan pada pemeriksaan fisik tanpa ada gejala (asimtomatik). Kista ovarium dapat menjadi komplikasi serius selama kehamilan. kista adalah kantung yang tumbuh di dalam ovarium dan terdiri atas satu dinding atau lebih yang mengandung cairan. kista ini harus diangkat melalui operasi karena menyebabkan tekanan, lilitan perdarahan atau sumbatan pada jalan lahir.kista yang tumbuh dalam ovarium yang tumbuh dalam kehamilan hampir selalu jinak.
Kista ovarium dapat menyebabkan nyeri, rasa kembung yang membengkakan perut. pemeriksaan fisik dan ultrasonografi digunakan untuk mendiagnosa masalah. pengobatan biasanya dengan obat untuk nyeri dan observasi; pembedahan biasanya dihindari kecuali benar-benar diperlukan.
Jika diperlukan pembedahan kista mungkin akan diangkat atau didrainase. pada beberapa kasus, dokter harus mengangkat keseluruhan ovarium. jika pembedahan dapat ditunda ,waktu yang paling aman untuk melakukan pembedahan adalah setelah trimester pertama berakhir.
Resiko terhadap janin bervariasi, tergantung pada pembedahan dilakukan. pada awal kehamilan,pengangkatan ovarium dapat bermakna kehilangan hormone penting yang menyokong kehamilan.pada akhir kehamilan,kista dapat menyumbat jalan lahir,membutuhkan kelahiran cesarean. resiko alinnya dapat mencangkup resiko yang berkaitan dengan anestesi umum, infeksi dan kelahiran premature.(Curtis, 1997).
Kista ovarium yang berukuran kecil biasanya tidak menunjukkan gejala atau rasa sakit, kecuali pecah atau terpuntir yang menyebabkan sakit yang hebat di daerah perut bagian bawah, dan kaku, kista yang berukuran besar atau berjumlah banyak dapat menimbulkan gejala seperti rasa sakit pada panggul, sakit pinggang, sakit saat berhubungan seksual, perdarahan rahim yang abnormal.
Tumor lazimnya berbentuk multilokuler; oleh karena itu, permukaan berbagala (lobulated). Kira-kira 10% dapat mencapai ukuran yang amat besar, lebih-lebih pada penderita yang datang dari pedesaan. Pada tumor yang besar tidak lagi dapat ditemukan jaringan ovarium yamg normal.Tumor biasanya unilateral, akan tetapi dapat juga dijumpai pada bilateral.
Kista ini berasal dari follikel yang menjadi besar semasa proses atresia follicular. Setiap bulan, sejumlah besar follikel menjadi mati, disertai kematian ovum, disusul dengan degenerasi dari epitel follikel. Pada masa ini tampaknya sebagai kista-kista kecil. Tidak jarang ruangan follikel diisi dengan cairan yang banyak, sehingga terbentuklah kista yang besar,yang dapat ditemukan pada pemeriksaan klinis. Biasanya besarnya tidak melebihi sebuah jeruk (lemon).sering terjadi pada pubertas, climakterium dan sesudah salpingektomi.tidak jarang terjadi perdarahan yang masuk kedalam rongga kista, sehingga terjadi suatu haematoma follikuler.
Kista ini tidak memberikan gejala yang karakteristik, bahkan kadang-kadang tidak menunjukkan gejala-gejala apapun.kurva suhu basal bersifat monofasis.
Bila mencapai ukuran yang cukup besar, kista tersebut dapat memberikan rasa penuh dan tidak enak pada daerah yang dikenai. Seperti pada tumor ovarii dapat menyebabkan torsi.kadang-kadang walaupun jarang,dapat terjadi rupture secara spontan, dengan disertai tanda-tanda perdarahan intra abdominal sehingga gambaran klinisnya dapat menyerupai suatu kehamilan ektopik yang terganggu.yang paling sering terjadi ialah, cairan kista tersebut mengalami reseptor secara spontan setelah satu atau dua siklus.
Kista menerima darahnya dari suatu tangkai; kadang-kadang dapat terjadi torsi yang mengakibatkan gangguan sirkulasi. Gangguan ini dapat menyebabkan perdarahan dalam kista dan perubahan degenerasi, yang memudahkan timbulnya perlekatan kista dengan omentum, usus-usus dan peritoneum parietale. dinding kista agak tebal dan berwarna putih keabu-abuan; yang terakir ini khususnya bila terjadi perdarahan atau perubahan degeneratif di dalam kista. Pada pembukaan terdapat cairan lendir yang khas, kental seperti gelatin, melekat, dan berwarna kuning sampai coklat tergantung dari pencampuranya dengan darah.
Pada pemeriksaan mikroskopik tampak dinding kista dilapisi oleh epitel torak tinggi dengan inti pada dasar sel; terdapat diantaranya sel-sel yang membundar karena terisi lendir (goblet cells).sel-sel epitel yang terdapat dalam satu lapisan mempunyai potensi untuk tumbuh seperti struktur kelenjar: kelenjar-kelenjar menjadi kista-kista baru, yang menyebabkan kista menjadi multilokuler. Jika terjadi sobekan pada dinding kista,dan dengan sekresinya menyebabkan pseudomiksoma peritonei.
Akibat pseudomiksoma peritonei ialah timbulnya penyakit menahun dengan musin terus bertambah dan menyebabkab banyak perlekatan.akhirnya, penderita meninggal karena ileus dan/atau inanisi.pada kista kadang-kadang dapat ditemukan daerah padat, dan pertumbuhan papiler.tempat-tempat tersebut perlu diteliti dengan seksama oleh karena di situ dapat ditemukan tanda-tanda ganas. Keganasaan ini terdapat dalam kira-kira 5-10% dari kistadenoma musinosum.
Etiologi
Terjadinya kista ovarium yaitu terjadinya gangguan pembentukan hormon pada hipotalamus, hipofisis, atau indung telur itu sendiri, dan juga idiopatik. Kista indung telur dari follikel yang tidak berfungsi selama siklus menstruasi.
Selain berasal dari kelainan sel telur (follikel), kista di ovarium juga biasa tumbuh begitu saja,. Kista semacam itu disebut kista coklat karena terdiri selaput yang berisi darah kental atau sering di sebut endometriosis.(www.gogle.com)
Manifestasi Klinis
Kistoma ovarii:
Mungkin ada amenorea,
Perut penderita makin besar,
Tetapi uterusnya sebesar biasa.(Saifuddin, 2002).
Menurut hardi dan Dr.Lastiko bramantyo Sp.OG, tidak ada patokan mengenai ukuran besarnya kista sehingga berpotensi pecah. ada kista yang berdiameter 5 cm sudah pecah, namun ada yang sampai 20 cm belum juga pecah.tetapi, pecahnya kista, katanya bisa menyebabkan pembuluh darah robek dan menimbulkan terjadinya perdarahan.hal itu sangat fatal karena dalam hitungan jam, penderita akan mengalami perdarahan dan kehilangan darah berliter-liter.(www.gogle.com)
Pengaruh Kistoma ovarii pada kehamilan dan Persalinan ialah:
abortus.
dapat terjadi torsi dari tumor.
dapat menimbulkan kelainan letak.
dapat menghalangi jalan lahir.
Diagnosa mudah pada hamil muda dan sulit sekali kalau uterus sudah besar, kadang-kadang baru diketahui adanya kista setelah persalinan. Mengingat penyulit-penyulit yang mungkin timbul dan kemungkinan keguguran maka sebaiknya kistoma ovarii di operasi walaupun penderita hamil karena ada kemungkinan corpus luteum graviditatis ikut terangkat, hingga terjadi abortus maka sebaiknya operasi di tunda sampai bulan ke 4.
Pada saat ini faal corpus luteum telah diambil alih oleh placenta. Sebelun dan sesudah operasi ibu diberi progesterone (25 mg,i.m./sehari) untuk memperkecil kemungkinan abortus.kalau tumor ini baru ditemukan pada hamil tua operasi ditunda sampai sesudah persalinan karena luka operasi yang baru sembuh dapat mengganggu kekuatan mengejan. kalau tumor menghalangi jalan lahir dilakukan SC dan pengangkatan tumor sekaligus, dalam keadaan darurat misalnya karena tidak mungkin melakukan operasi maka kista yang menghalangi jalan lahir dapat dipunksi untuk menghindarkan rupture uteri.(Sastrawinata, 1981).
Penatalaksanaan
Pada dasarnya dalam kehamilan tumor ovarium yang lebih besar yang lebih besar dari pada telur angsa harus dikeluarkan. Hal itu didasarkan atas 3 pertimbangan: (1) kemungkinan keganasan; (2) kemungkinan torsi’ dan (3) kemungkinan menimbulkan komplikasi obstetik yang gawat.
Pada kista ovarium dengan keluhan nyeri perut dilakukan laparatomi, pada kista ovarium asimtomatik besarnya lebih 10 cm, dilakukan laparatomi pada trimester ke dua kehamilan, kista yang kecil (<5cm)umumnya tidak memerlukan tindakan operatif, kista 5-10 cm, memerlukan observasi; jika menetap atau membesar, lakukan laparotomi, jika pada laparotomi ada kecurigaan keganasan, pasien perlu dirujuk kerumah sakit yang lebih lengkap untuk evaluasi dan penanganan selanjutnya.(Saifuddin, 2002).
Dalam triwulan I sebaiknya pengangkatan tumor ditunda sampai kehamilan mencapai 16 minggu. Saat operasi yang paling baik ialah dalam kehamilan antara 16 dan 20 minggu. Operasi dalam kehamilan muda dapat disusul oleh abortus apabila korpus luteum graviditatis yang menghasilkan progesteron ikut terangkat. Dalam hal demikian perlu diberikan terapi penggantian dengan suntikan progestin sampai kehamilan lewat 16 minggu. Apabila operasi dilakukan setelah kehamilan mencapai 16 minggu, maka hal tersebut di atas tidak usah dikhawatirkan karena plasenta sudah terbentuk lengkap, fungsi korpus luteum diambil alih oleh plasenta, dan produksi progesteron berlangsung terus walaupun korpus luteum terus terangkat. Sebaliknya rangsangan mekanis pada uterus waktu operasi sukar dihindarkan dengan akibat partus prematurus.(Saifuddin, 2002).
Mengenai cara mengatasi kista satu-satunya jalan yang paling efektif dengan mengangkat kista melalui operasi. (www.gogle.com).
Apabila tumor baru diketahui dalam kehamilan tua dan tidak menyebabkan penyulit obstetric atau gejala-gegala akut, atau tidak mencurigakan akan mengganas, maka kehamilan dapat di biarkan sampai berlangsung partus spontan. Dan operasi baru dilakukan dalam masa nifas. Akan tetapi apabila tumor terkurung dalam panggul, sectio sesarea merupakan tindakan pengakhiran kehamilan atau persalinan yang paling aman.
Dalam persalinan dapat dicoba secara hati-hati reposisi tumor yang menghalang-halangi turunnya kepala, asal disadari bahwa tumor kistik dapat pecah, apabila reposisi sudah kembali, anak dibiarkan lahir spontan dan tumor diangkat dalam masa nifas. lain hanya dengan tumor yang dianggap ganas atau yang disertai gejala-gejala akut. Dalam hal ini operasi harus segera dilakukan tanpa menghiraukan umur kehamilan.
Histerektomi
Histerektomi merupakan pembedahan dengan membuka dinding depan uterus untuk mengeluarkan isinya pada kehamilan 28 minggu.
Histerektomi dalam kebidanan dapat dilakukan sesudah:
seksio sesarea
Pengangkatan uterus setelah seksio sesarea diselenggarakan pada infeksi intrapartum yang berat, pada perdarahan karena atonia uteri yang tidak dapat diatasi oleh tindakan lain, pada uterus miomatosus dengan mioma yang besar dan/atau banyak, dan pada karsinoma servik uteri yang masih dapat dioperasi.
persalinan pervaginam
Pada persalinan pervaginam kadang-kadang dilakukan histerektomi apabila timbul perdarahan postpartum yang tidak dapat diatasi oleh tindakan lain, atau ada plasenta akreta.
terjadi ruptura uteri
Terapi yang terbaik pada rupture uteri adalah histerektomi, walaupun pada kasus-kasus tertentu kadang-kadang dapat dilakukan jahitan pada robekan tersebut. Dalam hal yang terakhir ini sebaiknya dilakukan sterilisasi. Pada ruptura uteri janin sudah meninggal dan seringkali untuk sebagian atau seluruhnya masuk dalam rongga perut. Dalam keadaan demikian dilakukan laparotomi,janin dan plasenta apabila yang akhir sudah lepas-dilahirkan, dan seterusnya uterus diangkat supravaginal.
Tehnik Dalam Histerektomi
Histerektomi biasanya dilakukan dengan meninggalkan adneksa kanan kiri. Ligamenta rotunda kanan dan kiri dipotong kira-kira 1,5 cm dari uterus dan diikat pada potongan medial dan lateral.
Jari telunjuk penolong ditekankan ke depan mulai dari dinding belakang ligamentum latum dibawah ligamentum ovarii proprium dekat pada pinggir uterus dan menembus ligamentum latum pada tempat pemotongan ligamentum rotundum
Setelah dipasang 2 cunam, tuba dan ligamentum ovarii proprium dipotong dan diikat pada potongan medial dan lateral.tindakan yang sama dilakukan pada bagian yang lain.
Kemudian peritoneum pada plika vesiko uterina pada garis tengah di buka, dan insisi dilakukan ke lateral kanan kiri sampai potongan ligamentum rotundum.
Dengan jari dibungkus dengan kain kasa, kandung kencing dan peritoneum dengan hati-hati didorong kebawah dan dilepas dari bagian bawah uterus. Disamping itu jaringan ligamentum latum yang terbuka didorong kebawah lateral untuk menjauhkan ureter dari uterus.
Peritoneum pada lapisan ligamentum latum digunting pada pinggir uterus kanan dan kiri, kemudian vasa uterina kanan dan kiri dengan cabang-cabangnnya dapat dijepit dekat pada uterus, digunting dan diikat dengan catgut yang kuat
Pada histerektomi supravaginal atau subtotal, servik uteri bagian atas dipegang dengan cunam servik, dibawahnya dipasang 1 cunam lagi dan servik dipotong diantara 2 cunam tersebut. Setelah perdarahan yang ada dirawat, luka pada servik uteri yang ditinggalkan dijahit dengan cutgut kuat, dan akhirnya diadakan peritioneisasi sisa servik, ujung ligamentum rotundum dan adnegsa yang telah dipotong, sebelah kiri dan kanan. Akhirnya luka dinding perut ditutup secara biasa.
Pada histerektomi total kandung kencing dilepaskan lebih kebawah lagi sampai vagina bagian atas. Pada dinding belakang uterus sedikit diatas hubungannya dengan ligamenta sacro uterine, diadakan insisi melintang sepanjang kira-kira 1,5 cm, dan dari lubang itu dilakukan pelepasan vagina dari rectum. Ujung ligamentumsacro uterine kanan dan kiri dipotong dan diikat dan setelah pinggir servik uteri kanan dan kiri dipisahkan dari jaringan parametrium, vagina didepan dibuka, dan dari luka itu uterus dipotong dari vagina. Setelah semua perdarahan dirawat dengan seksama, vagina ditutup dengan menjahitkan dinding depan dan dinding belakang. Akhirnya dilakukan peritoneisasi seperti tersebut diatas.
Pada hamil tua, khususnya jika persalinan sudah berlangsung dan sudah ada pembukaan servik uterus yang cukup besar, kadang-kadang sulit untuk menetapkan dimana servik berhenti dan vagina mulai. Kadang-kadang dikira menyelenggarakan histerektomi total, tetapi kemudian ternyata masih ada sisa servik uteri.


DAFTAR PUSTAKA
Curtis,glade ,B.1997.kehamilan diatas usia diatas 30. Jakarta:arcan
Manuaba,Ida Bagus Gde.1999. mwmahami kesehatan reproduksi wanita.Jakarta: Arcan
Doenges, E, Marilynn.2001.rencana perawatan maternal/bayi. Jakarta: penerbit buku kedokteran. EGC
Prawiro hardjo, Sarwono. 2002. ilmu kandungan. Jakarta: yayasan bina pustaka
Prawiro hardjo, Sarwono,2002. ilmu kebidanan. Jakarta: yayasan bina pustaka
Prawiro hardjo,Sarwono,2002. pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta: yayasan bina pustaka
Sastrawinata,R, Sulaiman,1981. Obstetri patologo:Badan obstetric dan ginekologi. Bandung: FK universitas Padjadjaran.
Sastrawinata,R, Sulaiman,1981. Ginekologo: Badan obstetric dan ginekologo. Bandung FK universitas padjadjaran.

CA MAMAE

TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Kanker Payudara adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudara.
Etiologi
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor resiko yang menyebabkan seorang wanita menjadi lebih mungkin menderita kanker payudara. Beberapa faktor resiko tersebut adalah:
Usia. Sekitar 60% kanker payudara terjadi pada usia diatas 60 tahun. Resiko terbesar ditemukan pada wanita berusia diatas 75 tahun.
Pernah menderita kanker payudara. Wanita yang pernah menderita kanker in situ atau kanker invasif memiliki resiko tertinggi untuk menderita kanker payudara. Setelah payudara yang terkena diangkat, maka resiko terjadinya kanker pada payudara yang sehat meningkat sebesar 0,5-1%/tahun.
Riwayat keluarga yang menderita kanker payudara. Wanita yang ibu, saudara perempuan atau anaknya menderita kanker, memiliki resiko 3 kali lebih besar untuk menderita kanker payudara.
Faktor genetik dan hormonal. Telah ditemukan 2 varian gen yang tampaknya berperan dalam terjadinya kanker payudara, yaitu BRCA1 dan BRCA2. Jika seorang mwanita memiliki salah satu dari gen tersebut, maka kemungkinan menderita kanker payudara sangat besar. Gen lainnya yang juga diduga berperan dalam terjadinya kanker payudara adalah p53, BARD1, BRCA3 dan Noey2. Kenyataan ini menimbulkan dugaan bahwa kanker payudara disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel yang secara genetik mengalami kerusakan. Faktor hormonal juga penting karena hormon memicu pertumbuhan sel. Kadar hormon yang tinggi selama masa reproduktif wanita, terutama jika tidak diselingi oleh perubahan hormonal karena kehamilan, tampaknya meningkatkan peluang tumbuhnya sel-sel yang secara genetik telah mengalami kerusakan dan menyebabkan kanker.
Pernah menderita penyakit payudara non-kanker. Resiko menderita kanker payudara agak lebih tinggi pada wanita yang pernah menderita penyakit payudara non-kanker yang menyebabkan bertambahnya jumlah saluarn air susu dan terjadinya kelainan struktur jaringan payudara (hiperplasia atipik).
Menarke (menstruasi pertama) sebelum usia 12 tahun, menopause setelah usia 55 tahun, kehamilan pertama setelah usia 30 tahun atau belum pernah hamil. Semakin dini menarke, semakin besar resiko menderita kanker payudara. Resiko menderita kanker payudara adalah 2-4 kali lebih besar pada wanita yang mengalami menarke sebelum usia 12 tahun. Demikian pula halnya dengan menopause ataupun kehamilan pertama. Semakin lambat menopause dan kehamilan pertama, semakin besar resiko menderita kanker payudara
Pemakaian pil KB atau terapi sulih estrogen. Pil KB bisa sedikit meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara, yang tergantung kepada usia, lamanya pemakaian dan faktor lainnya. Belum diketahui berapa lama efek pil akan tetap ada setelah pemakaian pil dihentikan. Terapi sulih estrogen yang dijalani selama lebih dari 5 tahun tampaknya juga sedikit meningkatkan resiko kanker payudara dan resikonya meningkat jika pemakaiannya lebih lama.
Obesitas pasca menopause. Obesitas sebagai faktor resiko kanker payudara masih diperdebatkan. Beberapa penelitian menyebutkan obesitas sebagai faktor resiko kanker payudara kemungkinan karena tingginya kadar estrogen pada wanita yang obes.
Pemakaian alkohol. Pemakaian alkohol lebih dari 1-2 gelas/hari bisa meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara.
Bahan kimia. Beberapa penelitian telah menyebutkan pemaparan bahan kimia yang menyerupai estrogen (yang terdapat di dalam pestisida dan produk industri lainnya) mungkin meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara.
DES (dietilstilbestrol). Wanita yang mengkonsumsi DES untuk mencegah keguguran memiliki resiko tinggi menderita kanker payudara.
Penyinaran. Pemaparan terhadap penyinaran (terutama penyinaran pada dada), pada masa kanak-kanak bisa meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara.
Faktor resiko lainnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kanker rahim, ovarium dan kanker usus besar serta adanya riwayat kanker dalam keluarga bisa meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara.
Patofisiologi
Kanker payudara berasal dari unsur epitel parenkim payudara. Kesatuan fungsional terkecil payudara disebut lobulus, yang terbentuk oleh kelompokan asinus dengan fungsi sekresi air susu dan struktur saluran keluarnya, yang berukuran kecil disebut duktulus, yang lebih besar disebut duktus. Papila atau puting susu adalah muara duktus ekskretorius bentuk lobus yang bercabang dalam sekelompok lobulus. Kanker payudara yang berasal dari epitel asinus dalam lobulus disebut Karsinoma Lobular sedangkan kanker yang berasal dari epitel duktulus atau duktus disebut Karsinoma Duktal. Keganasan setempat yang masih terbatas intra lobular atau intra duktal, belum ada kerusakan membran basalis dalam asinus dan duktulus atau duktus, jadi belum ada tanda invasi ke jaringan di luar lobulus atau duktus, merupakan tahap awal karsinoma payudara. Pertumbuhan lebih lanjut dari masing-masing keganasan tersebut tetap seperti keadaan semula atau menyebuk (invasif). Jaringan di luar lobulus atau duktulus atau duktus. Pertumbuhan keganasan yang tidak menyibuk kemana-mana disebut karsinoma invasif = karsinoma insitu.
Karsinoma lobular maupun duktal baik bersifat invasif atau non invasif yang berukuran kurang dari 0,5 cm (ada yang memakai patokan kurang dari 1 cm) disebut karsinoma payudara minimal (dini), secara klinik. Dan apabila ditinjau dari populasi sel ganas, masa minimal terdeteksi tersebut diperkirakan telah mencapai 30 doublings sehingga berbentuk 10 sel tumor ganas. Sel tumor ganas mengadakan pembelahan secara tidak teratur dan diperkirakan satu waktu doubling berkisar antara 30 sampai 200 hari atau lebih. Sehingga status dini klinis tidak sama dengan status dini biologis. Apabila invasi tumor ganas mencapai pembuluh limfe atau pembuluh darah, akan terjadi emboli sel tumor ganas, sehingga akan memungkinkan penyebaran limfogen atau hematogen baik regional atau metastasis jauh. Perjalanan penyakit lebih lanjut secara klinis dinyatakan secara klinis T.N.M.
Staging (Penentuan Stadium Kanker) Penentuan stadium kanker penting sebagai panduan pengobatan, follow-up dan menentukan prognosis. Staging kanker payudara (American Joint Committee on Cancer): - Stadium 0 : Kanker in situ dimana sel-sel kanker berada pada tempatnya di dalam jaringan payudara yang normal - Stadium I : Tumor dengan garis tengah kurang dari 2 cm dan belum menyebar keluar payudara - Stadium IIA : Tumor dengan garis tengah 2-5 cm dan belum menyebar ke kelenjar getah bening ketiak atau tumor dengan garis tengah kurang dari 2 cm tetapi sudah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak - Stadium IIB : Tumor dengan garis tengah lebih besar dari 5 cm dan belum menyebar ke kelenjar getah bening ketiak atau tumor dengan garis tengah 2-5 cm tetapi sudah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak - Stadium IIIA : Tumor dengan garis tengah kurang dari 5 cm dan sudah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak disertai perlengketan satu sama lain atau perlengketah ke struktur lainnya; atau tumor dengan garis tengah lebih dari 5 cm dan sudah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak - Stadium IIIB : Tumor telah menyusup keluar payudara, yaitu ke dalam kulit payudara atau ke dinding dada atau telah menyebar ke kelenjar getah bening di dalam dinding dada dan tulang dada - Stadium IV : Tumor telah menyebar keluar daerah payudara dan dinding dada, misalnya ke hati, tulang atau paru-paru. Selain stadium kanker, terdapat faktor lain yang mempengaruhi jenis pengobatan dan prognosis:
Jenis sel kanker
Gambaran kanker
Respon kanker terhadap hormon Kanker yang memiliki reseptor estrogen tumbuh secara lebih lambat dan lebih sering ditemukan pada wanita pasca menopause.
Ada atau tidaknya gen penyebab kanker payudara.
Manifestasi klinik
Gejala awal berupa sebuah benjolan yang biasanya dirasakan berbeda dari jaringan payudara di sekitarnya, tidak menimbulkan nyeri dan biasanya memiliki pinggiran yang tidak teratur. Pada stadium awal, jika didorong oleh jari tangan, benjolan bisa digerakkan dengan mudah di bawah kulit. Pada stadium lanjut, benjolan biasanya melekat pada dinding dada atau kulit di sekitarnya. Pada kanker stadium lanjut, bisa terbentuk benjolan yang membengkak atau borok di kulit payudara. Kadang kulit diatas benjolan mengkerut dan tampak seperti kulit jeruk. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: - Benjolan atau massa di ketiak - Perubahan ukuran atau bentuk payudara - Keluar cairan yang abnormal dari puting susu (biasanya berdarah atau berwarna kuning sampai hijau, mungkin juga bernanah) - Perubahan pada warna atau tekstur kulit pada payudara, puting susu maupun areola (daerah berwana coklat tua di sekeliling puting susu) - Payudara tampak kemerahan - Kulit di sekitar puting susu bersisik - Puting susu tertarik ke dalam atau terasa gatal - Nyeri payudara atau pembengkakan salah satu payudara . Pada stadium lanjut bisa timbul nyeri tulang, penurunan berat badan, pembengkakan lengan atau ulserasi kulit.

Penatalaksanaan medis
Untuk kanker yang terbatas pada payudara, pengobatannya hampir selalu meliputi pembedahan (yang dilakukan segera setelah diagnosis ditegakkan) untuk mengangkat sebanyak mungkin tumor. Terdapat sejumlah pilihan pembedahan, pilihan utama adalah mastektomi (pengangkatan seluruh payudara) atau pembedahan breast-conserving (hanya mengangkat tumor dan jaringan normal di sekitarnya). Pembedahan breast-conserving
Lumpektomi : pengangkatan tumor dan sejumlah kecil jaringan normal di sekitarnya
Eksisi luas atau mastektomi parsial : pengangkatan tumor dan jaringan normal di sekitarnya yang lebih banyak
Kuadrantektomi : pengangkatan seperempat bagian payudara.
Pengangkatan tumor dan beberapa jaringan normal di sekitarnya memberikan peluang terbaik untuk mencegah kambuhnya kanker. Keuntungan utama dari pembedahan breast-conserving ditambah terapi penyinaran adalah kosmetik. Biasanya efek samping dari penyinaran tidak menimbulkan nyeri dan berlangsung tidak lama. Kulit tampak merah atau melepuh. Mastektomi
Mastektomi simplek : seluruh jaringan payudara diangkat tetapi otot dibawah payudara dibiarkan utuh dan disisakan kulit yang cukup untuk menutup luka bekas operasi. Rekonstruksi payudara lebih mudah dilakukan jika otot dada dan jaringan lain dibawah payudara dibiarkan utuh. Prosedur ini biasanya digunakan untuk mengobati kanker invasif yang telah menyebar luar ke dalam saluran air susu, karena jika dilakukan pembedahan breast-conserving, kanker sering kambuh.
Mastektomi simplek ditambah diseksi kelenjar getah bening atau modifikasi mastektomi radikal : seluruh jaringan payudara diangkat dengan menyisakan otot dan kulit, disertai pengangkatan kelenjar getah bening ketiak.
Mastektomi radikal : seluruh payudara, otot dada dan jaringan lainnya diangkat.
Terapi penyinaran yang dilakukan setelah pembedahan, akan sangat mengurangi resiko kambuhnya kanker pada dinding dada atau pada kelenjar getah bening di sekitarnya. Ukuran tumor dan adanya sel-sel tumor di dalam kelenjar getah bening mempengaruhi pemakaian kemoterapi dan obat penghambat hormon. Beberapa ahli percaya bahwa tumor yang garis tengahnya lebih kecil dari 1,3 cm bisa diatasi dengan pembedahan saja. Jika garis tengah tumor lebih besar dari 5 cm, setelah pembedahan biasanya diberikan kemoterapi. Jika garis tengah tumor lebih besar dari 7,6 cm, kemoterapi biasanya diberikan sebelum pembedahan. Penderita karsinoma lobuler in situ bisa tetap berada dalam pengawasan ketat dan tidak menjalani pengobatan atau segera menjalani mastektomi bilateral (pengangkatan kedua payudara). Hanya 25% karsinoma lobuler yang berkembang menjadi kanker invasif sehingga banyak penderita yang memilih untuk tidak menjalani pengobatan. Jika penderita memilih untuk menjalani pengobatan, maka dilakukan mastektomi bilateral karena kanker tidak selalu tumbuh pada payudara yang sama dengan karsinoma lobuler. Jika penderita menginginkan pengobatan selain mastektomi, maka diberikan obat penghambat hormon yaitu tamoxifen. Setelah menjalani mastektomi simplek, kebanyakan penderita karsinoma duktal in situ tidak pernah mengalami kekambuhan. Banyak juga penderita yang menjalani lumpektomi, kadang dikombinasi dengan terapi penyinaran. Kanker payudara inflamatori adalah kanker yang sangat serius meskipun jarang terjadi. Payudara tampak seperti terinfeksi, teraba hangat, merah dan membengkak. Pengobatannya terdiri dari kemoterapi dan terapi penyinaran. Rekonstruksi payudara Untuk rekonstruksi payudara bisa digunakan implan silikon atau salin maupun jaringan yang diambil dari bagian tubuh lainnya. Rekonstruksi bisa dilakukan bersamaan dengan mastektomi atau bisa juga dilakukan di kemudian hari. Akhir-akhir ini keamanan pemakaian silikon telah dipertanyakan. Silikon kadang merembes dari kantongnya sehingga implan menjadi keras, menimbulkan nyeri dan bentuknya berubah. Selain itu, silikon kadang masuk ke dalam laliran darah. Kemoterapi & Obat Penghambat Hormon Kemoterapi dan obat penghambat hormon seringkali diberikan segera setelah pembedahan dan dilanjutkan selama beberapa bulan atau tahun. Pengobatan ini menunda kembalinya kanker dan memperpanjang angka harapan hidup penderita. Pemberian beberapa jenis kemoterapi lebih efektif dibandingkan dengan kemoterapi tunggal. Tetapi tanpa pembedahan maupun penyinara, obat-obat tersebut tidak dapat menyembuhkan kanker payudara. Efek samping dari kemoterapi bisa berupa mual, lelah, muntah, luka terbuka di mulut yang menimbulkan nyeri atau kerontokan rambut yang sifatnya sementara. Pada saat ini muntah relatif jarang terjadi karena adanya obat ondansetron. Tanpa ondansetron, penderita akan muntah sebanyak 1-6 kali selama 1-3 hari setelah kemoterapi. Berat dan lamanya muntah bervariasi, tergantung kepada jenis kemoterapi yang digunakan dan penderita. Selama beberapa bulan, penderita juga menjadi lebih peka terhadap infeksi dan perdarahan. Tetapi pada akhirnya efek samping tersebut akan menghilang. Tamoxifen adalah obat penghambat hormon yang bisa diberikan sebagai terapi lanjutan setelah pembedahan. Tamoxifen secara kimia berhubungan dengan esrogen dan memiliki beberapa efek yang sama dengan terapisulih hormon (misalnya mengurangi resiko terjadinya osteoporosis dan penyakit jantung serta meningkatkan resiko terjadinya kanker rahim). Tetapi tamoxifen tidak mengurangi hot flashes ataupun merubah kekeringan vagina akibat menopause. Pengobatan kanker payudara yang telah menyebar Kanker payudara bisa menyebar ke berbagai bagian tubuh. Bagian tubuh yang paling sering diserang adalah paru-paru, hati, tulang, kelenjar getah bening, otak dan kulit. Kanker muncul pada bagian tubuh tersebut dalam waktu bertahun-tahun atau bahkan berpuluh-puluh tahun setelah kanker terdiagnosis dan diobati. Penderita kanker payudara yang telah menyebar tetapi tidak menunjukkan gejala biasanya tidak akan memperoleh keuntungan dari pengobatan. Akibatnya pengobatan seringkali ditunda sampai timbul gejala (misalnya nyeri) atau kanker mulai memburuk. Jika penderita merasakan nyeri, diberikan obat penghambat hormon atau kemoterapi untuk menekan pertumbuhan sel kanker di seluruh tubuh. Tetapi jika kanker hanya ditemukan di tulang, maka dilakukan terapi penyinaran. Terapi penyinaran merupakan pengobatan yang paling efektif untuk kanker tulang dan kanker yang telah menyebar ke otak.
Obat penghambat hormon lebih sering diberikan kepada: - kanker yang didukung oleh estrogen - penderita yang tidak menunjukkan tanda-tanda kanker selama lebih dari 2 tahun setelah terdiagnosis - kanker yang tidak terlalu mengancam jiwa penderita. Obat tersebut sangat efektif jika diberikan kepada penderita yang berusia 40 tahun dan masih mengalami menstruasi serta menghasilkan estrogen dalam jumlah besar atau kepada penderita yang 5 tahun lalu mengalami menopause. Tamoxifen memiliki sedikit efek samping sehngga merupakan obat pilihan pertama. Selain itu, untuk menghentikan pembentukan estrogen bisa dilakukan pembedahan untuk mengangkat ovarium (indung telur) atau terapi penyinaran untuk menghancurkan ovarium. Jika kanker mulai menyebar kembali berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah pemberian obat penghambat hormon, maka digunakan obat penghambat hormon yang lain. Aminoglutetimid adalah obat penghambat hormon yang banyak digunakan untuk mengatasi rasa nyeri akibat kanker di dalam tulang. Hydrocortisone (suatu hormon steroid) biasanya diberikan pada saat yang bersamaan, karena aminoglutetimid menekan pembentukan hydrocortisone alami oleh tubuh.
Kemoterapi yang paling efektif adalah cyclophosphamide, doxorubicin, paclitaxel, dosetaxel, vinorelbin dan mitomycin C. Obat-obat ini seringkali digunakan sebagai tambahan pada pemberian obat penghambat hormon.
Kanker pada stadium awal jarang menimbulkan gejala, karena itu sangat penting untuk melakukan penyaringan. Beberapa prosedur yang digunakan untuk penyaringan kanker payudara:
SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri). Jika SADARI dilakukan secara rutin, seorang wanita akan dapat menemukan benjolan pada stadium dini. Sebaiknya SADARI dilakukan pada waktu yang sama setiap bulan. Bagi wanita yang masih mengalami menstruasi, waktu yang paling tepat untuk melakukan SADARI adalah 7-10 hari sesudah hari 1 menstruasi. Bagi wanita pasca menopause, SADARI bisa dilakukan kapan saja, tetapi secara rutin dilakuka setiap bulan (misalnya setiap awal bulan).
Mammografi. Pada mammografi digunakan sinar X dosis rendah untuk menemukan daerah yang abnormal pada payudara. Para ahli menganjurkan kepada setiap wanita yang berusia diatas 40 tahun untuk melakukan mammogram secara rutin setiap 1-2 tahun dan pada usia 50 tahun keatas mammogarm dilakukan sekali/tahun.
USG payudara. USG digunakan untuk membedakan kista (kantung berisi cairan) dengan benjolan padat.
Termografi. Pada termografi digunakan suhu untuk menemukan kelainan pada payudara.
SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri)
Berdiri di depan cermin, perhatikan payudara. Dalam keadaan normal, ukuran payudara kiri dan kanan sedikit berbeda. Perhatikan perubahan perbedaan ukuran antara payudara kiri dan kanan dan perubahan pada puting susu (misalnya tertarik ke dalam) atau keluarnya cairan dari puting susu. Perhatikan apakah kulit pada puting susu berkerut.
Masih berdiri di depan cermin, kedua telapak tangan diletakkan di belakang kepala dan kedua tangan ditarik ke belakang. Dengan posisi seperti ini maka akan lebih mudah untuk menemukan perubahan kecil akibat kanker. Perhatikan perubahan bentuk dan kontur payudara, terutama pada payudara bagian bawah.
Kedua tangan di letakkan di pinggang dan badan agak condong ke arah cermin, tekan bahu dan sikut ke arah depan. Perhatikan perubahan ukuran dan kontur payudara.
Angkat lengan kiri. Dengan menggunakan 3 atau 4 jari tangan kanan, telusuri payudara kiri. Gerakkan jari-jari tangan secara memutar (membentuk lingkaran kecil) di sekeliling payudara, mulai dari tepi luar payudara lalu bergerak ke arah dalam sampai ke puting susu. Tekan secara perlahan, rasakan setiap benjolan atau massa di bawah kulit. Lakukan hal yang sama terhadap payudara kanan dengan cara mengangkat lengan kanan dan memeriksanya dengan tangan kiri. Perhatikan juga daerah antara kedua payudara dan ketiak.
Tekan puting susu secara perlahan dan perhatikan apakah keluar cairan dari puting susu. Lakukan hal ini secara bergantian pada payudara kiri dan kanan.
Berbaring terlentang dengan bantal yang diletakkan di bawah bahu kiri dan lengan kiri ditarik ke atas. Telusuri payudara kiri dengan menggunakan jari-jari tangan kanan. Dengan posisi seperti ini, payudara akan mendatar dan memudahkan pemeriksaan. Lakukan hal yang sama terhadap payudara kanan dengan meletakkan bantal di bawah bahu kanan dan mengangkat lengan kanan, dan penelusuran payudara dilakukan oleh jari-jari tangan kiri.

Pencegahan
Banyak faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan. Beberapa ahli diet dan ahli kanker percaya bahwa perubahan diet dan gaya hidup secara umum bisa mengurangi angka kejadian kanker. Diusahakan untuk melakukan diagnosis dini karena kanker payudara lebih mudah diobati dan bisa disembhan jika masih pada stadium dini. SADARI, pemeriksan payudara secara klinis dan mammografi sebagai prosedur penyaringan merupakan 3 alat untuk mendeteksi kanker secara dini. Penelitian terakhir telah menyebutkan 2 macam obat yang terbukti bisa mengurangi resiko kanker payudara, yaitu tamoksifen dan raloksifen. Keduanya adalah anti estrogen di dalam jaringan payudara. Tamoksifen telah banyak digunakan untuk mencegah kekambuhan pada penderita yang telah menjalani pengobatan untuk kanker payudara. Obat ini bisa digunakan pada wanita yang memiliki resiko sangat tinggi. Mastektomi pencegahan adalah pembedahan untuk mengangkat salah satu atau kedua payudara dan merupakan pilihan untuk mencegah kanker payudara pada wanita yang memiliki resiko sangat tinggi (misalnya wanita yang salah satu payudaranya telah diangkat karena kanker, wanita yang memiliki riwayat keluarga yang menderita kanker payudara dan wanita yang memiliki gen p53, BRCA1 atauk BRCA 2).
Pemeriksaan fisik
Karena organ payudara dipengaruhi oleh faktor hormonal antara lain faktor estrogen dan progesteron maka sebaiknya pemeriksaan payudara dilakukan di saat pengaruh hormonal ini seminimal mungkin, yaitu setelah menstruasi lebih kurang satu minggu dari hari pertama menstruasi.
Penderita diperiksa dengan bagian atas terbuka :
Posisi tegak (duduk)
Penderita duduk dengan tangan jatuh bebas kesamping, dan pemerisa berdiri di depan dalam posisi yang lebih kurang sama tinggi. Pada ispeksi dilihat : simetri payudara kanan – kiri , kelainan papila, letak dan bentuknya, adakah retraksi putting susu, kelainan kulit, tanda-tanda radang, peau d’ orange, dimpling, ulserasi dan lain-lain.
Posisi baring
Penderita berbaring dan diusahakan agar payudara jatuh tersebar rata di atas lapangan dada ; jika perlu bahu/ punggung dengan bantal kecil pada penderita-penderita payudaranya yang sakit. Palpasi ini dilakukan dengan mempergunakan palang distal dan falang medial jari II, III, IV dan dikerjakan secra sistematis mulai dari kranial setingi iga ke-2 sampai ke distal setinggi iga ke-6.
Menetapkan keadaan tumornya
Lokasi tumor menurut kwadran di payudara atau teletak di daerah sentral (subareoral dan dibawah papil).
Ukuran tumor, konsistensi, batas-batas tumor tegas atau tidak tegas.
Mobilitas tumor terhadap kulit dan m.pektoralis atau dinding dada.
Kemungkinan diagnosa
Pre operasi
Gangguan Rasa Nyaman : Nyeri berhubungan dengan proses desak ruang jaringan payudara.
Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah berhubungan dengan pembesaran jaringan poayudara.
Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi
Post operasi
Gangguan rasa nyaman nyeri (post op) berhubungan dengan diskontinuitas jaringan
Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan insisi jaringan
Resti infeksi berhubungan dengan pemajanan luka insisi terhadap lingkungan luar
Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan depresi medulla oblongata.
Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan peningkatan jumlah sekret
Pola nafas tak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas usus
Gangguan body image berhubungan dengan krisis situasi

HIPEREMESISGRAVIDARUM

PENDAHULUAN
Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) dengan gejala yang wajar sering kedapatan pada kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pagi hari tetapi timbul setiap saat dan malam hari. Gejala-gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu.
Mual dan muntah terjadi pada 60-805 multi gravida satu diantara seribu kehamilan gejala-gejala ini terjadi lebih berat. Perasaan mual ini disebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormon estrogen HCG dalam serum, Pengaruh fisiologik, kenaikan hormon ini belum jelas, mungkin karena sistem syaraf pusat/pengogongan timbang yang kurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan diri dengan keadaan ini, meskipun demikian gejala mual dan muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Pekerjaan sehari-hari dapat terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. Keadaan ini lah yang disebut hiperemesis gravidarum keluhan gejala dan perubahan fisiologis menetukan berat ringannya penyakit.
BAB II
KONSEP TEORI
Definisi
Hiperemesis gravidarum adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat timbul setiap saat dan malam hari. Gejala-gejala ini terjadi kurang lebih 6 minggu setelah HPHT dan berlangsung lebih kurang 10 minggu.
(Wiknjosastro, 2002)
Etiologi
Penyebab Hiperemesis gravidarumbelum diketahui secara pasti, tidak ada bukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh faktor tixic juga tidak ditemukan kelainan biokimia. Perubahan-perubahan anatomi pada otak, jantung, hati dan susunan syaraf disebabkan kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat inasisi. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang telah ditemukan oleh penulis sebagai berikut.
Faktor predisposisi yang sering ditemukan adalah primigravida, mola hidatosa, dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatosa dan kehamilan ganda menimbulkan bahwa faktor hormon memegang peranan, karena pada kedua keadaan tersebut hormon khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.
Masuknya vili khoirialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metagonik akibat hamil serta resistensi yang menurun dan pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan faktor organik.
Alergi adalah salah satu respon dari jaringan ibu terhadapp anak, juga disebut sebagai salah satu faktor organik.
Faktor psikologik memegang peranan penting pada penyakit ini, rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagi pelarian kesukaran hidup.
Zat Fe: efek samping fe bisa menyebabkan mual/muntah.
Hubungan psikologi dengan Hiperemesis gravidarum belum diketahui pasti. Tidak jarang dengan memberikan suasana baru, sudah membantu mengurangi frekuensi muntah.
(Wiknjosastro, 2002)
Manifestasi Klinik
Batas jelas antara tua atau yang masih fisiologi dalam kehamilan dan Hiperemesis gravidarum tidak ada. Bila keadaan umum penderita terpengaruh sebaiknya ini dianggap Hiperemesis gravidarum. Hiperemesis gravidarum menurut besar ringannya gejala dibagi kedalam tiga tingkatan :
Tingkat I : muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan merasa nyeri pada epigastrum. Nadi meningkat sekitar 100/menit, tekanan darah sistolik menurun, turgor kulit mengurang dan mata cekung.
Tingkat II : Penderita tampak lebih lemah dan apatis turgor kulit lebih mengurang, lidah mengering, tampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikteris. Berat badan turun dan mata menjadi cekung, tensi turun, hemokonsentrasi, oliguria dan konstipasi. Aseton dapat tercium dalam hawa pernafasan karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing.
Tingkat III : Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dari samnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat dan tensi turun.
(Wiknjosastro, 2002)

Penatalaksanaan
Pencegahan dengan memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan kepada ibu-ibu dengan maksud menghilangkan faktor psikis rasa takut, juga tentang diit bumil, makan jangan sekaligus banyak, tetapi dalam porsi sedikit-sedikit namun sering. Jangan tiba-tiba berdiri waktu bangun pagi, akan terasa oyong, mual/muntah, defekasi hendaknya diusahakan teratur.
Terapi obat menggunakan sedatif (luminal, stelosid); vitamin (B1 dan B2) anti muntah (mediater B6, Draamanin, Avopreg, Avomin, Torecan) antasada dan anti mulas.
Farmakologi
Faktor pemberian
B1 : mempertahankan kesehatan syaraf, jantung, otot dan jaringan GI, meningkatkan pertumbuhan dan perbaikan sel.
B6 : membantu dalam sintesa lemak, dalam pembentukan sel darah merah.
B12 : mengatur sintesa SDM dan mengatur perkembangan sel-sel syaraf fetus.
Hiperemesis Gravidarum tingkat I dan III harus rawat inap di Rumah sakit.
Kadang-kadang pada beberapa wanita, hanya tidur di Rumah sakit saja telah banyak mengurangi mual muntahnya.
Isolasi jangan terlalu banyak tamu. Kalau perlu hanya perawat dan dokter saja yang boleh masuk. Kadang kala hal ini saja, tanpa pengobatan khusus telah mengurangi mual muntah.
Terapi psikologi berikan pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang wajar, normal dan fisiologis, jadi tidak perlu takut dan khawatir. Cari dan coba hilangkan faktor psikologis seperti keadaan sosio ekonomi dan pekerjaan serta lingkungan.
Penambahan cairan berikan infus dekstrosa atau glukosa 5 % sebanyak 2-3 liter dalam 24 jam. Bertujuan untuk koreksi terhadap kekurangan cairan serta elektrolit dan keadaan asidosis / alkoliosis sehingga gejala vomitus terkendali.
Berikan obat obatan seperti telah dikemukakan di atas.
Pada beberapa kasus dan bila terapi tidak dapat dengan cepat memperbaiki keadaan umum penderita, dapat dipertimbangkan suatu abortus buatan.
(Mochtar, 1998)
Komplikasi
Komplikasi fatal pada susunan saraf yang dikenal sebagai Esenfalopati warnickle dan gejala nistagmus diplopia dan perubahan mental. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus menunjukkan adanya Payah Hati.
Pemeriksaan Diagnostik
Urine
Protein : 8 mg/dl (albumin)
Aseton : (-) negatif
Klorida : 90-110 Meg/L
Bilirubin : 0,1-0,3 mg/100ml, Indirect : 0,2-0,8 Mg/200ml
Bj : 1,005 – 1,030
Ph : 4,6 – 8,0
Sputum muntah
Jumlah
Ph ; 7,36 – 7,44
Darah
Hb : 10-12 gr%
Hb : 37-47
BUN : ♂ : 10-25 mg/100MI
♀ : 8 – 20 mg/100MI
Pemeriksaan Fisik
Kepala : mata cekung
Membran mukosa
Lidah : kering
Kesadaran : menurun
Turgor kulit : tidak elastis
Urine out put : menurun/ kurang dari 500MI/hati ...x
Torak dan dada
TTV : RR : ↑ (16-20X/M)
TD : ↓ (120/80 mmHg)
Nadi : ↑ (80-100 X/M)
Suhu : ↓ (36-37,5o)
Kapiler renfil : lebih dari 3 detik.
BUN : meningkat
Diagnosa Keperawatan
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah.
Penurunan COP berhubungan dengan penurunan kontruktilitas jantung.
Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan perfusai jaringan.
Gangguan pola nafas tidak efektif berhubungan denganb adanya oedema pada paru.
Hipotermi berhubungan dengan adanya dehidrasi
Gangguan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah yang berlebihan.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
Gangguan keseimbangan dan elektrolit berhubungan dengan mual / muntah.
Data obyektif :
HT menurun
Konjungtiva pucat.
TD menurun, suhu meningkat, nadi meningkat, RR meningkat
Mata cekung
Turgor kulit : tidak elastis
Mukosa mulut : kering
Oliguri
BUN meningkat
Data Subjektif
Haus
Tujuan: Keseimbangan cairan dan elektrolit Ssi dengan kebutuhan tubuh.
Kriteria hasil
Turgor kulit : kembali normal baik kembali dalam dan delik
Keluaran urine normal 30-50 ml/jam.
Mukosa mulut : lembab
Turgor kulit : elastis
BUU normal.
(of = 10-25 mg/100ml; of = 8-20 mg/100ml)
TTV :
TD: N (120/80 mmHg)
S : 36-37,5o
RR : 16-20 x/m
Mandiri :
Kaji suhu dan turgor kulit, membran mukosis, tekanan darah, suhu, masukan / keluaran dan berat jenis urin. Timbang berat badan klien dan bandingkan dengan standar.
Anjurkan peningkatan klien masukan berkarbonat, makan 6 kali sehari dengan jumlah yang sedikit dan makanan tinggi KH (mis: Pop corn, roti kering, sebelum bangun tidur)
Tentukan adanya / frekuensi mual berlebihan atau menetap muntah.
Memberikan data berkenaan dengan semua kondisi, peningkatan kadar hormon gonadotropin korionik (HCG), perubahan metabolisme KH, dan penurunan motilitas grafik memperberat mual dan muntah pada trisemester pertama.
Membantu dalam mengesampingkan penyebab lain untuk mengatasai masalah masalah dalam mengidentifikasi intervensi.
membantu dalam menentukan adanya muntah yang tidak dapat dikontrol (hiperemesis
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
N : 80-100 x/w
HT : N : 37 – 47
Kaji hal-hal yang meningkatkan mual dan muntah. Misalnya bau-bauan yang terlalu, makanan yang terlalu asin atau manis.
Kaji hal-hal yang menurunkan mual dan muntah misal makanan diberikan waktu hangat, suasana yang menyenangkan.
Ajarkan pada waktu ibu bangun tidur pagi hari :
Jangan langsung pergi
gravidarum) pada awalnya muntah dapat mengakibatkan alkalosis, dehidrasi dan ketidak seimbangan elektrolit. Muntah yang tidak dapat diatasi atau berat dapat menimbulan sianosis.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
dari tempat tidur.
- Minum air putih.
Libatkan keluarga
Menghadirkan suami dan keluarga terdekat klien ketika klien dirawat.
Keluarga/suami berusaha meyakinkan klien bahwa klien tidak perlu cemas menghadapi kehamilannya.
WWW. Google. com
Pantau hasil pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi.
Elektrolit
HT
BUN
Berikan cairan elektrolit glukosa atau vitamin secara parentera sesuai indikasi.
Menurunkan rasa cemas
Indikator dalam membantu untuk mengevaluasi tingkat atau kebutuhan Hidrasi.
Membantu dalam memini- malkan mual /muntah dan menurunkan keasaman
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
Penurunan COP berhubungan dengan kontraktilitas jantung.
Tujuan: Curah jantung kembali normal.
Lakukan test urine.
Pantau tanda vital, contoh frekuensi jantung, TD.
lambung muntah yang sering (hiperemesis gravidarum) mengakibatkan bilirubin dan mengetahui frekuensi muntah, memudahkan kita melakukan tindakan yang lebih lanjut.
Meningkatkan pada dehidrasi hipovolemik menurunkan panyusi fungsi ginjal, meningkatkan BUN. Membantu menghemat atau mencegah kemungkinan hipokalemia yang berat.
Untuk mengetahui kandungan urine apakah dalam batas normal atau tidak.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
Data Obyektif :
Dispnea
Nadi perifer
Kulit dingin/pucat
Perubahan status mental
Data Subyektif :
Gelisah
Kelemahan
Nyeri dada
Kriteria Hasil :
Berpartisipasi pada perilaku/aktivitas yang menurunkan kerja jantung.
TTV :
TD : 120/80 mmHg
RR : 16-20 x/m
N: - reguler
- 60-100 x/m
S : 36-37,5oC
Kulit hangat
Kesadaran komposmentis.
Catat warna kulit dan adanya / kualitas nadi.
Auskultasi bunyi nafas dan bunyi jantung dengarkan murmur.
Takikardi dapat terjadi karena nyeri, cemas, hipoksia, dan menurunnya curah jantung, perubahan juga tertjadi pada TD karena respon jantung.
Sirkulasi perifer menurun bila curah jantung turun membuat kulit pucat atau warna abu-abu (tergantung tingkat hipoksia) dan menurunya kekuatan nadi perifer.
S3, S4 atau krekels terjadi dengan dekompensasi jantung atau beberapa obat, terjadinya murmur dapat menunjukkan katup karena nyeri dada, contoh stenosis dorta, stenosis mitra atau roptar otot papilar.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan perfusi jaringan.
Data obyektif :
TD
Data subyektif :
Akral dingin
Kesadaran menurun
Menunjukkan perfusi jaringan
TTV stabil
TD : 120/80 mmHg
N : 80-100 x/m
RR : 18-20 x/m
S : 36-37,5oC
Kulit hangat dan kering
Tingkat kesadaran membaik (composmentis)
Haluran urin normal : 2/3 ml/jam.
Pertahankan tirah baring, bantu dengan aktivitas perawatan
Pantau TTV
Selidiki/kaji perubahan pada sensori, NN ex kesuraman mental, agitasi, supor, koma, delirium.
Kaji kulit terhadap perubahan warna, suhu dan kelembaban.
Catat haluran urin setiap jam dan berat jenis.
Kolaborasi
Berikan obat-obatan sesuai petunjuk: kortisteroid.
Menurunkan beban kerja miokard dan konsumsi O2 memaksimalkan aktivitas dari perfusi jaringan.
Bila terjadi takikardi, mengacu pada stimulasi sekunder sistem saraf simpatis untuk menekan respon dan untuk menggantikan kerusakan pada hipovolumit.
Jika terjadi hipotensi menunjukkan curah jantung yang menurun.
Perubahan menunjukan penyimpangan perfusi serebral atau hipoksenia atau asidosis.
Mekanisme kompensasi dari vasedilatasi mengakibatkan kulit hangat, merah muda, kering adalah karakteristik dari hiperperfusi.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
Pantau pemeriksaan laboratorium misalnya GDA, kadar laktat.
Penurunan haluran urine dengan peningkatan berat jenis akan mengindikasikan penurunan perfusi ginjal.
Meskipun kontroversial, steroid mungkin diberikan untuk kepentingan potensial terhadap penurunan permeabilitas kapiler, peningkatan perfusi ginjal dan pencegahan pembentukan mikroemboli.
Perkembangan asidosis respiratorik/metabolik. Mereflekskan kehilangan mekanisme kompensasi, penurunan perfusi jaringan ginjal/ekskresi hidrogen dan akumulasi asam laktat.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
Gangguan pola nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya oedema pada paru.
Data obyektif :
Takpnea
Dipsnea (pernafasan tersengal-sengal)
Penurunan bunyi nafas : krekels)
Batuk (sputum)
Data subyektif :
Mengeluh gangguan pola tidur
Gelisah
Tujuan : pola pernafasan menjadi efektif.
Kriteria Hasil
Menunjukkan pola nafas efektif dengan frekuensi dan kedalaman dalam rentang normal dan pural jelas bersih.
Bunyi nafas : vasikuler
RR : reguler
16 – 20 x/m.
Mandiri :
Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada, catat upaya pernafasan, termasuk penggunaan otot bantu/pelebaran nasul.
Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas adventisius seperti krekels.
Tinggikan kepala dan bantu mengubah poisis.
Observasi pola batuk dan karakter sekret.
Kecepatan biasanya meningkat, dispnea dan terjadi peningkatan kerja nafas. Kedalaman pernafasan bervariasi tergantung derajat gagal nafas ekspansi dada terbatas yang berhubungan dengan atelektusis dan/atau nyeri dada pleurik.
Bunyi nafas menurun/tidak ada bila jalan nafas obstruksi sekunder terhadap perdarahan, bekuan/kolab jalan nafas kecil.
Duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan.
Kongesti alveolar mengakibatkan batuk kering/ iritasi. Spulum berdarah dapat diakibatkan oleh
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
Dorong atau bantu pasien dalam nafas dalam dan latihan batuk.
Kolaborasi :
Berikan tambahan O2
Berikan humidifikasi tambahan mis: nebuliser ultrasonik.
Bantu fisioterapi dada (mis: drainase portural dan perkusi area yang tak sakit/ tiupan botol).
Kerusakan jaringan (infak paru) atau anti koagulan berlebihan.
Dapat meningkatkan banyaknya sputum dimana gangguan ventilasi dan ditambah ketidak nyamanan upaya bernafas.
Memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas.
Memberikan kelembaban pada membran mukosa dan membantu mengencerkan sekret untuk memudahkan pembersihan.
Memudahkan upaya pernafasan dalam dan meningkatkan drainase sekret dari segmen paru ke dalam bronkus, dimana dapat lebih mempercepat pembuangan dengan batuk / penghisapan.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
Hipotermi berhubungan dengan adanya dehidrasi.
Data obyektif :
Suhu di bawah 36oC
Akral dingin
Kulit kemerahan
Peningkatan tingkat pernafasan
Takikardi.
Data subyektif :
Haus
Tujuan
Suhu tubuh menjadi normal.
Kriteria Hasil :
Mendemonstrasikan suhu dalam batas normal bebas dari kedinginan.
Suhu normal 36-37oC
Akral hangat.
Kulit hangat
Nadi normal (60-100x/m)
Pantau suhu pasien (derajat dan pola ) pperhatikan menggigil.
Pantau suhu lingkungan batasai/ tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi.
Suhu 38,9o – 40oC menunjukkan proses penyakit infekius akut. Pola demam dapat membnatu dalam diagnosis. Misal kurva demam berlanjut berakhir lebih dari 24 jam menunjukkan pneumonia pneumokokal demam skarlet atau tifole demam memiten (bervariasi hanya pada beberapa derajat pada arah tertentu) menunjukkan infeksi pada kurva intermitte demam yang kembali normal/sekali dalam periode 24 jam menunjukkan episode septik nolokardiits septik atau TB. Menggingi sering mendahului puncak suhu.
Suhu ruangan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
Berikan kompres, menjadi hangat. Hindari penggunaan akohol
Kolaborasi
Berikan antipiretik misal : ASA (aspirin) asafominoten (tynol)
Dapat membantu mengurangi demam.
Digunakan untuk mengurangi demam dan aksi sentralnya pada hipotalamus meskipun demam mungkin dapat berguna dalam membatasi pertumbuhan organisme dan meningkatkan dufodestruksi dari sel-sel yang terinfeksi.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
Gangguan perubahan nutrisi berhubungan dengan mula muntah yang berlebihan.
Data obyektif :
BB menurun
Turgor kulit jelek
Bising usus menurun
Membran mukosa menurun/ kering.
Data subyektif :
Lelah
Letih
Anoreksia
Mual
Tujuan :
Berat badan kembali normal.
Kriteria Hasil :
Berat badan kembali normal / ideal; penambahan berat badan tidak boleh lebih dari 12 kg selama kehamilan.
Pasien tidak mengalami anoreksia kembali makan 3 x sehari.
Bisisng usus : normal
Membran mukosa lembab
Mual hilang.
Anjurkan pilihan makanan tinggi Protein. Zat besi dan MTC bila dimasukkan oral dibatasai.
Tingkatkan masukan sedikitnya 2000 ml/hr, sup dan cairan nutrisis lain.
Anjurkan bubur atau istitrahat adekuat.
.
Pemilihan dan regenerasi jaringan baru. Zat besi per5lu untuk sistesissistesis Hb. Vitamin C memusdahkan absorpsi zat besi perlu untuk sitesis dinding tabel.
Memberikan kalori dan nutrisi lain untuk memenuhi kebutuhan metabolik serta menggantikan ke butuhan cairan,. Karenanya meningkatnya volume cairan sirkulasi.
Menurunkan kerja metabolisme, memungkinkan nutrisi dan O2 digunakan untuk proses pemulihan.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
Kolaborasi
Berikan cairan / nutrisi parenteral, sesuai indikasi.
Berikan preparat zat besi atau vitamin sesuai indikasi.
Bantu penempatan seang nasogastrik. Atau niller aboutt.
Anjurkan klien untuk mempertahankan intake cairan dan nutrisi yang adekuat dan timbang BB setiap hari.
Memungkinkan perlu untuk mengalami dehidrasi menggantikan kehilangan cairan dan memberikan yang perlu bila masukan oral dibatasi.
Bermanfaat dalam memperbaiki anemia atau defisiensi bila ada.
Mungkin perlu untuk dikompresi gastrointestinal, papa adanya distensi abdomen, atau perifonitis.
Untuk mengganti cairan dan makanan yang keluar saat muntah dan memonitor bila terjadi BB.
DAFTAR PUSTAKA
E.Doenges, Marlin. 2001. Rencana Keperawatan Maternal atau Bayi. EGC : Jakarta.
Goodner, Brenda. 1994. Panduan Tindakan Keperawatan Klinik Praktis. EGC : Jakarta .
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis. Edisi 2. EGC: Jakarta.
Manuaba, I Bagus Gde, 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. EGC : Jakarta.
Wiknjosastro, Hanafi. 2002. Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka : Jakarta.

KETUBAN PECAH DINI


KETUBAN PECAH DINI

Pengertian
Ketuban pecah dini adalah ketuban yang pecah spontan yang terjadi pada sembarang usia kehamilan sebelum persalinan di mulai (William,2001)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu yaitu apabila pembukaan pada primipara kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm (mohtar,1998)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan di tunggu satu jam belum di mulainya tanda persalinan (manuaba,2001)
Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan berupa air dari vagina setelah kehamilan berusia 22 minggu sebelum proses persalinan berlangsung dan dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm. (saifudin,2002)
Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung.ketuban pecah dini di sebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intra uteri atau kedua faktor tersebut.berkurangnya kekuatan membrane disebabkan adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina servik (sarwono prawiroharjop,2002)
etiologi
servik incompetent
yaitu kelainan pada servik uteri di mana kanalis servikalis selalu terbuka.
ketegangan uterus yang berlebihan
misalnya pada kehamilan ganda dan hidroamnion karena adanya peningkatan tekanan pada kulit ketuban di atas ostium uteri internum pada servik atau peningkatan intra uterin secara mendadak.
kelainan letak janin dalam rahim
misalnya pada letak sunsang dan letak lintang,karena tidak ada bagan terendah yang menutupi pintu atas panggul yang dapat menghalangi tekanan terhadap membrane bagian bawah.
kemungkinan kesempitan panggul,perut gantung,sepalopelvik,disproporsi.
Kelainan bawaan dari se;laput ketuban
Infeksi
Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenden dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini(manuaba,1998)
fisiologi air ketuban
Di dalam ruang yang di liputi oleh selaput janin yang terdiri dari lapisan amnion dan korion terdapat likuor amnii.volume likuor amnii pada kehamilan cukup bulan 1000 ml – 1500 ml. Warna putih, agak keruh serta mempunyai bau yang agak khas,agak amis. Air ketuban mempunyai berat jenis 1.008 dan terdiri dari 98 % air,sisany albumin, urea, asam urik, kreatinin, sel sel epitel, rambut lanugo, vernik caseosa, dan garam anorganik.
Fungsi air ketuban ::.
Melindungi janin terhadap trauma dari luar
Memungkinkan janin bergerak bebas
Melindungi terhadap perubahan suhu
Mempertahankan suhu tubuh bayi
Meratakan tekanan di dalam uterus sehingga servik membuka
Mencegah perlekatan janin
Patofisiologi
Banyak teori, mulai dari defek kromosom kelainan kolagen, sampai infeksi
Pada sebagian besar kasus ternyata berhubungan dengan infeksi(sampai 65%)
High virulensi : Bakteroides.
Low firulence : Lactobasillus
Kolagen terdapat pada lapisan kompakta omnion,fibroblast,jaringan retikuler korion dan trofoblas. Sintensis maupun degradasi jaringan kolagen di control oleh system aktyfita dan inhibisi interleukin-1(iL-1) dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolemirasi kolagen pada selaput korion/ amnion, menyebabkan ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan
manifestasi klinis
keluar air ketuban warna putih, jernih, kuning, hijau atau kecoklatan dengan sedikit atau sekaligus banyak.
Dapat di sertai demam bila sudah ada infeksi
Janin mudah di raba
Pada pemeriksaan dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering
Pada inspekulo tampak air ketuban mengalir, selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering.
penanganan
penanganan umum
konfirmasi usia kehamilan, kalau ada dengan USG
melakukan pemeriksaan inspekulo untuk menilai cairan yang keluar dan membedakannya dengan urin.
Jika ibu mengeluh pendarahan pada akhir kehamilan (di atas 22 minggu) jangan lakukan pemeriksaan dalam secara digital.
Tentukan ada tidaknya infeksi
Tentukan tanda tanda inpartu.
penanganan khusus
Rawat di rumah sakit
Jika ada pendarahan pervaginam dengan nyeri perut, pikirkan adanya solusio plasenta
Jika ada tanda tanda infeksi(demam, cairan vagina berbau) berikan antibiotika sama halnya jika terjadi amnionitis
Jika tidak ada infeksi dan kehamilan < 37 minggu
Berikan antibiotika untuk mengurangi morbiditas ibu dan janin.
Ampisilin 4 x 500 mg selm 7 hari di tambah eritromisin 250 mg per oral 3 x per hari selama 7 hari
Berikan kortikosteroid kepada ibu untuk memperbaiki kematangan paru janin
Betametason 12 mg Im dalam dosis setiap 6 jam atau dexamethason 6 mg Im dalam 4 dosis setiap 6 jam
Catatan : jangan berikan kortikosteroid jika terdapat tanda tanda infeksi.
Lakukan persalinan pada kehamilan 37 minggu
Jika terdapat his dan darah lender, kemungkinan terjadi persalinan preterm
jika tidak terdapat infeksi dan kehamilan > 37 minggu
jika ketuban telah pecah > 18 jam, berikan antibiotika profilaksis untuk mengurangi resiko infeksi streptokokus grup B.
ampicilin 2 gr I.V setiap 6 jam
penisilin G 2 juta unit I.V setiap 6 jam sampai persalinan
jika tidak ada infeksi pasca persalinan, hentikan antibiotika.
Nilai servik
Jika servik sudah matang, lakukan induksi persalinan dengan oksitosin.
Jika servik belum matang, matangkan servik dengan prostaglandin dan infuse oksitosin atau lahirkan dengan section caecaria.
Jika terdapat amnionitis
Berikan antibiotika kombinasi sampai persalinan
Ampisilin 2 gr I.V setiap 6 jam di tambah gentamisin 5 mg/kg BB I.V setiap 24 jam
Jika persalinan pervaginam, hentikan antibiotika pada persalinan
Jika persalinan dengan secsio caesaria, lanjutkan antibiotika dan berikan metronidazol 500 mg I.V setiap 8 jam sampai bebas demam selama 48 jam.
Komplikasi ketuban pecah dini
Infeksi intrapartum (korioamnionitis)
Persalinan preterm,jika terjadi pada usia kehamilan preterm
Prolapas tali pusat
Oligohidroamnion
Pemeriksaan diaknostik
Ultrasonografi
Ultrasonografi dapat mengidentifikasi kehamilan ganda anormali janin,atau melokalisasi kantong cairan amnion pada omniosintensis.
Amniosintesis
Cairam amnion dapat di kirim ke laboratorium untuk evaluasi kematangan paru janin
Pemantauan janin
Menbantu dalam mengevaluasi janin
Protein C-reaktihistopatologi
Peningkatan protein C- reaktif serum menunjukkan peringatan korioamnionitis.
Histopatologi
Untuk mengetahui kelainan air ketuban
PENGKAJIAN
Sirkulasi
Hipertensi, edema patologis dan penyakit jantung sebelumnya
Integritas ego
Adanya ansietas sedang
Makanan/ cairan
Ketidakadekuatan atau penambahan berat badan berlebihan yang terjadi pada hidroamnion
Nyeri/ketidaknyamanan
Kontraksi intermiten sampai regular yang jaraknya kurang dari 10 menit selama paling sedikit 30 detik dalam 30-60 menit
Pernafasan
Mungkin perokok berat
Keamanan
Infeksi mungkin ada (misalnya ISK atau infeksi vagina )
seksualitas
tulang servikal dilatasi, membrane amnion mungkin rupture,pendarahan trisemester 3, aborsi sebelumnya,persalinan preterm,uterus distensi berlebih
Interaksi sosial
Dari kelas sosial ekonomi yang rendah
Penyulahan pembelajaran
Ketidakadekuatan atau tidak adanya perawatan prenatal, mungkin di bawah usia 18 tahun atau lebih dari 40 tahun, penggunaan alcohol atau obat obatan
Temukan kajian yang lain
- keluar cairan bening dari vagina secara mendadak, dengan di ikuti sedikit drainase.
- vagina penuh dengan cairan pada pemeriksaan speculum.
DATA SUBJEKTIF
Pancaran involunter atau kebocoran
Cairan jernih dari vagina merupakan gejal yang khas. Tidak ada nyeri maupun kontraksi uterus
Riwayat haid
Umur kehamilan diperkirakan dari haid terakhir.
DATA OBJEKTIF
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan umum : suhu normal terutama di sertai infeksi
Pemeriksaan abdomen : uterus lunak dan tidak ada nyeri tekan
Pemeriksaan pelvic : pemeriksaan speculum steril pertama kali di lakukan untuk memeriksa adanya cairan amnion dalam vagina.pemeriksaan vagina steril menentukan penipisan dan di latasi servik.
TES LABORAT
Hitung darah lengkap dengan apusan darh : leukositosis di gabung dengan peningkatan bentuk batang pada apusan tepi menunjukkan infeksi intrauterine.

MASA KEHAMILAN


PENDAHULUAN

Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi menjadi 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan. Kehamilan melibatkan perubahan fisik emosional dari ibu serta perubahan sosial di dalam lingkungan keluarga. Pada umumnya kehamilan berkembang dengan normal dan menghasilkan kelahiran bayi sehat cukup bulan melalui jalan lahir namun kadang-kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sulit diketahui bahwa kehamilan akan menjadi masalah. System penilaian resiko tidak dapat memprediksi apakah ibu hamil akan bermasalah selama kehamilannya. Oleh karena itu pelayanan/asuhan antenatal merupakan cara penting untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal (Prawirohardjo, 2002)
Hasil akhir kehamilan yang diharapkan adalah kelangsungan hidup ibu dan bayinya. Tujuan perawatan antenatal lebih dari itu; bukan hanya kelangsungan hidup tetapi juga kualitas hidup yang baik perawatan antenatal yang baik mencakup :
Pengawasan kehamilan untuk melihat apakah segalanya berlangsung normal, untuk mendeteksi dan mengatasi setiap kelalaian yang timbul, dan untuk mengantisipasi semua masalah selama kehamilan, persalinan dan periade postnatal
Penyuluhan atau pendidikan mengenai kehamilan dan bagaimana cara-cara mengatasi gejalanya, mengenai diet, perawatan gigi serta gaya hidup; hampir setiap pertemuan dengan ibu hamil (dengan suaminya) memberikan kesempatan untuk memberikan penyuluhan dalam satu atau lain bentuk
Persiapan (baik fisik maupun psikologis) bagi persalinan atau pelahiran, dan pemberian petunjuk mengenai segala aspek dalam perawatan bayi
Dukungan jika terdapat masalah-masalah sosial atau psikologis
Dalam hubungannya dengan hasil akhir suatu kehamilan, “kualitas hidup yang baik” berarti ibu yang sehat dengan bayi yang sehat dan ibu mengetahui cara merawat bayi serta dirinya. Sebagian besar rumah sakit kini menyertakan calon ayah ke dalam program penyuluhan dan persiapan persalinan (Farrer, 2001).
Pada trimester tiga pemeriksaan dilakukan setiap dua minggu atau setiap minggu. Rancangan pemeriksaan meliputi anamnesa terhadap keadaan normal dan keluhan hamil trimester tiga, pemeriksaan fisik (umum, khusus dan tambahan). Kesimpulan dari pemeriksaan ini adalah normal, sehat dan memuaskan dan penggolongan kehamilan (resiko tinggi, meragukan, atau resiko rendah). Juga dilakukan pengobatan penyakit ibu atau komplikasi kehamilan. Obat penyokong kesehatan hamil adalah vitamin tambahan dan obat khusus, juga pemberian vaksinasi tetanus toxoid II. Anjuran pada masa ini berkaitan dengan kesehatan umum dan kesehatan khusus berkaitan dengan kehamilannya juga petunjuk kapan datang ke rumah sakit. Pada bulan ke sembilan, dilakukan pemeriksaan setiap minggu dengan rancangan yang sama. Kelahiran dapat terjadi setiap waktu, oleh karena itu perlu diberikan petunjuk kapan harus datang ke rumah sakit. Anjuran untuk datang ke rumah sakit adalah bila :
Sakit perut datang menghilang dan makin lama makin bertambah keras dan waktu makin pendek
Terjadi pengeluaran darah, keluar banyak (sampai basah), keluar lendir campur darah
Adanya keluhan badan panas, penglihatan kabur, sakit kepala berat dan sakit ulu hati (manuaba, 1999).

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Trimester tiga adalah periode kehamilan tiga bulan terakhir/ sepertiga masa kehamilan terakhir (Farrer, 1999).
Trimester tiga merupakan periode kehamilan dari bulan ketujuh sampai sembilan bulan (28-40 minggu).
Perubahan anatomik dan fisiologik pada wanita hamil
Pada kehamilan terdapat perubahan pada seluruh tubuh wanita, khususnya pada alat genitalia eksterna dan interna dan pada payudara (mammae). Dalam hal ini hormone somatomammotropin, estrogen, dan progesterone mempunyai peranan penting. Perubahan yang terdapat pada wanita hamil ialah antara lain sbb:
Uterus
Uterus akan membesar pada bulan bulan pertama di bawah pengaruh estrogen dan progesterone yang kadarnya meningkat. Pembesaran ini pada dasarnya disebabkan oleh hipertropi otot polos uterus; di samping itu, serabut-serabut kolagen yang adapun menjadi higroskopik akibat meningkatnya kadar estrogen sehingga uterus dapat mengikuti pertumbuhan janin.
Berat uterus normal lebih kurang 30 gram; pada akhir kehamilan (40 minggu) berat uterus menjadi 1000 gram, dengan panjang lebih kurang 20 cm dan dinding lebih kurang 2,5 cm.pada bulan-bulan pertama kehamilan bentuk uterus seperti buah advokad, agak gepeng. Pada kehamilan 4 bulan uterus berbentuk bulat. Selanjutnya pada akhir kehamilan kembali seperti bentuk semula, lonjong seperti telur. Hubungan antara besarnya uterus dengan tuanya kehamilan sangat penting diketahui, antara lain untuk membuat diagnosis apakah wanita tersebut hamil fisiologik, atau hamil ganda, atau menderita penyakit seperti molahidatidosa, dsb.
Pada kehamilan 28 minggu fundus uteri terletak kira-kira3 jari diatas pusat atau sepertiga jarak antara pusat ke prosessus xifoideus. Pada kehamilan 32 minggu fundus uteri terletak diantara setengah jarak pusat dan prosessus xifoideus. Pada kehamilan 36 minggu fundus uteri terletak kira-kira 1 jari di bawah prosessus xifoideus.
Servic uteri
Servik uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena hormone estrogen. Jika korpus uteri mengandung lebih banyak jaringan otot, maka servik lebih banyak mengandung jaringan ikat, hanya 10% jarinagn otot. Jaringan ikat pada servik ini banyak mengandung kolagen. Akibat kadar estrogen meningkat, dan dengan adanya hipervaskularisasi maka konsistensi servik menjadi lunak.
Kelenjar-kelenjar di servik akan berfungsi lebih dan akan mengeluarkan sekresi lebih banyak. Kadang-kadang wanita yang sedang hamil mengeluh mengeluarkan cairan per vaginam lebih banyak. Keadaan ini sampai batas tertentu masih merupakan keadaan yang fisiologik.
Vagina dan vulva
Vagina dan vulva akibat hormone estrogen mengalami perubahan pula. Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih merah, agak kebiru-biruan. Tanda ini disebut tanda Chadwick. Warna porsio pun tampak livide.
Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditis sampai terbentuknya plasenta pada kira-kira kehamilan 16 minggu. Korpus luteum graviditis berdiameter kira-kira 3 cm. kemudian, ia mengecil setelah plasenta terbentuk.
Mamma
Mamma akan membesar dan tegang akibat hormone somatomammotropin, estrogen, dan progesterone, akan tetapi belum mengeluarkan air susu.
Pada kehamilan 12 minggu ke atas dari putting susu dapat keluar cairan berwarna putih agak jernih, sisebut kolostrum. Kolostrum ini berasal dari kelenjar-kelenjar asinus yang mulai bersekresi. Sesudah partus, kolostrum ini agak kental dan warnanya agak kuning. Meskipun kolostrum telah dapat dikeluarkan, pengeluaran air susu belum berjalan oleh karena prolaktin ini ditekan oleh PIH (prolactine inhibiting hormone).
Sirkulasi darah
Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya sirkulasi keplasenta, uterus yang membesar dengan pembuluh-pembuluh darah yang membesar pula, mamma dan alat lain-lain yang memang berfungsi berlebihan dalam kehamilan.volume darah akan bertambah banyak, kira-kira 25%, dengan puncak kehamilan 32 minggu, diikuti dengan cardiac output yang meninggi sebanyak kira-kira 30%.
Sistem respirasi
Seorang wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang mengeluh tentang rasa sesak dan pendek nafas.hal ini di temukan pada kehamilan 32 minggu ke atas oleh karena usus-usus tertekan oleh uterus yang membesar kearah diafragma, sehingga difragma kurang leluasa bergerak.
Traktus digestivus
Pada bulan-bulan pertama kehamilan terdapat perasaan enek (nausea). Mungkin ini akibat kadar hormone estrogen yang meningkat. Tonus-tonus otot traktus digestivus menurun sehingga motilitas seluruh traktus digestivus juga berkurang. Makanan lebih lama berada dalam lambung dan apa yang dicernakan lebih lama dalam usus-usus. Hal ini mungkin baik untuk resorpsi, akan tetapi menimbulkan pula obstipasi, yang memeng merupakan salah satu keluhan utama wanita hamil.
Traktus urinarius
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan oleh uterus yang mulai membesar, sehingga timbul sering kencing. Keadaan ini hilang dengan makin tuanya kehamilan bila uterus gravidus keluar dari rongga panggul. Pada akhir kehamilan, bila kepala janin mulai turun ke bawah pintu atas panggul, keluhan sering kencing akan timbul lagi karena kandung kencing mulai tertekan kembali.
Kulit
Pada kulit terdapat deposit pigmen dan hiperpigmentasi alat-alat tertentu. Pigmentasi ini disebabkan oleh pengaruh melanophore stimulating hormone (MSH) yang meningkat. MSH ini merupakan salah satu hormone yang juga dikeluarkan oleh lobus anterior hipofisis. Kadang-kadang terdapat deposit pigmen pada dahi, pipi, dan hidung, yang di kenal sebagai kloasma gravidarum.
(Prawirohardjo, 2002)
Tanda subjektif dan objektif kehamilan trimester tiga
Tanda subjektif
29-33 minggu
Fatigue
Ansietas tentang masa depan
Mimpi buruk
Penurunan keinginan seksual karena ketidaknyamanan fisik
34-38 minggu
Sakit punggung, perubahan gaya berjalan
Ketidaksabaran untuk pengakhiran kehamilan
Perasaan buaian tentang masa depan yang ambivalen
Sebelum kelahiran
Lightening
Lightening merupakan tanda dini dimulainya persalinan, dimana kepala janin telah terbenam kedalam rongga panggul karena berkurangnya tempat di dalam uterus dan sedikit melebarnya simfisis; keadaan ini sering meringankan keluhan pernafasan serta heartburn dan pada primigravida akan terlihat pada kehamilan 36 minggu sedangkan pada multipara baru tampak setelah persalinan dimulai mengingat otot-otot abdomennya lebih kendor.
Sakit perut bagian bawah
Tanda objektif
29-33 minggu
Rasa panas dalam perut disebabkan tekanan uterus, mild hiatus hernia dan muntahan asam perut ke dalam esophagus
Kontraksi Braxton-Hicks mungkin terjadi
Kontraksi Braxton-Hicks merupakan kontraksi tak teratur rahim dan terjadi tanpa rasa nyeri di sepanjang kehamilan; kontraksi ini membantu sirkulasi darah dalam plasenta.
Kontraksi Braxton-Hicks akan dirasakan oleh ibu selama beberapa minggu terakhir kehamilannya.
Fundus terletak diantara umbilicus dan xipoid
34-38 minggu
Peningkatan sesak nafas dan tanda tekanan lain (heartburn, merasa penuh setelah makan, konstipasi, varicose veins, edema, haemoroid)
Heartburn (pirosis, nyeri dada)
Pirosis merupakan perasaan nyeri di dada, karena masuknya isi lambung ke dalam esophagus bagian bawah. Keluhan sering ditemukan dalam kehamilan, terutama dalam posisi tengkurap, atau menelan sesuatu makanan tertentu atau obat. Pada kehamilan tua, mungkin kelainan ini agak sering dijumpai karena pengaruh rahim yang membesar. pirosis biasanya tidak akan menimbulkan komplikasi seperti striktura, perdarahan, karena waktunya sebentar saja. Pengobatan cukup dengan memberikan obat antacid, mengubah posisi tubuh dan menegakkan kepala serta mencegah tengkurap setelah makan. Keadaan yang lebih berat, kadang-kadang menyebabkan penderita sulit menelan, ada perdarahan (hematemesis), sebagai akibat terjadi esofagitis erosif.
Konstipasi
Konstipasi sering terjadi dan disebabkan oleh penurunan motilitas usus sehingga memerlukan waktu lebih lama untuk menyerap cairan. Demikian pula usus dapat saling berdesakan akibat tekanan dari uterus yang membesar.
Vena varikosa (varicose veins)
Varicose veins mengakibatkan melemahnya dinding vena atau cacatnya fungsi katup. Kurang baiknya sirkulasi di ekstremitas bawah merupakan predisposisi wanita terkena varicose veins di kaki dan paha, juga lamanya berdiri atau duduk. Berat uterus gravid di pelvis aggravates berkembang dari varicosities di kaki dan area pelvis menghalangi aliran balik vena.
Penatalaksanaan dengan metode pembedahan dan injeksi tidak dianjurkan selama kehamilan. Wanita yang tahu mungkin akan melakukan treatment setelah melahirakn karena akan menimbulkan masalah dalam keberhasilan kehamilan.
Edema kaki
Sebagian besar wanita menunjukkan edema pada kaki di akhir kehamilan karena peningkatan kesulitan pengembalian darah vena dari ekstremitas bawah. Lamanya duduk dan udara yang panas meningkatkan terjadinya edema. Edema kaki menjadi perhatian ketika disertai hipertensi atau proteinuria.
Haemoroid (wasir)
Dalam kehamilan dapat terjadi pelebaran vena hemoroidalis interna dan pleksus hemoroidalis eksterna, karena terdapatnya konstipasi dan pembesaran uterus. Hemoroid ini lebihnyata dan dapat menonjol keluar anus. Wasir yang kecil kadang tidak menimbulkan keluhan, sedang yang besar sering menimbulkan keluhan bahkan dapat menimbulkan komplikasi hebat yaitu rasa nyeri serta perdarahan pada saat buang air besar, serta ada sesuatu yang keluar dari anus.
Wasir dapat didiagnosis dengan mudah, yaitu adanya keluhan rasa perih di daerah anus, perdarahan, serta pada pengamatan ditemukan vena yang membengkak di anus atau di rectum. Pada hemoroid interna dan eksterna yang tidak menimbulkan keluhan, tidak perlu diberi pengobatan, dan setelah melahirkan hemoroid tersebut akan mengecil.
Sebelum kelahiran
Fundus ada di bawah diafragma sampai kepala janin masuk kedalam rongga panggul, kemudian perut kelihatan maju ke depan
(Dickason, 1997)
Adaptasi kehamilan
Tugas perkembangan selama kehamilan
Tugas terakhir di minggu terakhir adalah pengakhiran kehamilan dan untuk kelahiran bayinya. Dia harus mempersiapkan fase letting go dari kehamilan dan semua penyatuan perasaan dan kreativitas, proses perpisahan dengan janin. Sadar atau tidak sadar ketakutan mutilasi, kematian atau abandonment selalu muncul pada waktu ini. Antisipasi kecemasan merupakan hal yang normal dan sehat.
Selama kehamilan, tingkat ketergantungan kebutuhan meningkat, puncaknya pada trimester tiga, selama persalinan dan periode asuhan kehamilan. Seorang ibu yang sedang hamil harus memelihara dirinya sendiri sehingga dia dapat merawat bayinya. Seorang laki-laki juga merasa kebutuhannya meningkat terutama untuk seseoarang yang dapat dipercaya untuk merawat bayinya, karena ibu yang sedang mengandung lebih banyak instrospektif dengan kemajuan kehamilannya. Anggota keluarga seharusnya mengingatkan khususnya pada periode ini.
Hampir semua ibu hamil menunjukkan kebutuhan yang sama pada trimester ketiga walaupun berbeda latar belakang, tingkat pendidikan dan pengalaman.seorang wanita memusatkan perhatian pada bayinya, proses kelahiran, perubahan fisik dan emosianal. Ekspresi pada trimester tiga ini antara lain:
Kesehatan bayi (pertanyaan tentang kecacatan bayi, tanda kesehatan bayi, bagaiman pengaruh kelahiran bagi bayi, efek obat dan anestesi)
Biaya kelahiran bayi (rumah sakit, pengeluaran alat)
Proses persalinan dan kelahiran (nyeri, ketakutan, salah paham, ketika ada di rumah sakit)
Keluarga (bagaimana penerimaan anak yang lain dengan kehadiran bayi, bagaimana perencanaan selama di rumah sakit, bagaimana pasangan merespin bayi)
Harapan-harapan yang terkandung dalam tugas seorang ayah
Pada saat trimester tiga, seorang ayah lebih memusatkan perhatian kepada kedatangan bayi. Seorang ayah mungkin lebih enggan untuk datang pada kelas pendidikan kelahiran bayi atau mendengar rencana atau ide tentang bayi berulang-ulang. Seorang ayah mungkain akan mengecat ruang bayi atau menata ulang perabotannya.
Seperti seorang ibu, seorang ayah juga mengungkapkan peningkatan kecemasan kelahiran bayi yang semakin dekat.dia mungkin takut dengan kesehatan pasangannya dan kesehatan bayinya. Bantuan yang dapat di lakukan pada proses ini antara lain support dan pengakuan pencapaian hasil.
(Dickason, 1997)
Perubahan psikologis Ibu dan Ayah pada trimester tiga
Perubahan psikologis pada Ibu
Kehamilan merupakan suatu kondisi perubahan body image dan juga mengharuskan mengulang hubungan sosial dan perubahan peran anggota keluarga. Bagaimapun juga, wanita menunjukkan respon psikologis dan emosional yang sama selama kehamilan, antara lain:
Ambivalence
Pada awalnya, terjadi rencana kehamilan, dimana ada element yang mengejutkan bahwa konsepsi telah terjadi. Ambivalence ini berhubungan dengan pemilihan waktu yang “salah;” kekhawatiran tentang modifikasi kebutuhan hubungan yang ada atau rencana karier; ketakutan tentang peran baru; dan ketakutan tentang kehamilan, persalinan dan kelahiran.
Acceptance (penerimaan)
Penerimaan kehamilan dipengaruhi banyak faktor. Rendahnya penerimaan cenderung dihubungkan dengan tidak direncanakannya kehamilan dan bukti ketakutan dan konflik. Pada trimester tiga menggabungkan perasaan bangga dengan takut mengenai kelahiran anak. Pada periode ini, khususnya hak istimewa kehamilan lebih berarti.
Selama trimester akhir, ketidak nyamanan fisik kembali meningkat dan istirahat yang adekuat menjadi keharusan. Wanita membuat persiapan akhir untuk bayi dan mungkin menggunakan waktu yang lama untuk mempertimbangkan nama anaknya.
Introversion
Introvert atau memikirkan dirinya sendiri dari pada orang lain merupakan peristiwa yang biasa dalam kehamilan. Wanita mungkin menjadi kurang tertarik dengan aktivitas terdahulunya dan lebih berkonsentrasi dengan kebutuhan untuk istirahat dan waktu untuk sendiri.
Mood swings (perasaan buaian)
Selama kehamilan, wanita memiliki karakteristik ingin dibuai, dengan suka cita. Pasangan harus mengetahui bahwa ini merupakan karakteristik perilaku kehamilan, hal itu menjadi mudah baginya untuk lebih efektif di samping itu akan menjadi sumber stress selama kehamilan.
Changes in body image (perubahan gambaran tubuh)
Kehamilan menimbulkan perubahan tubuh wanitaperiode waktu yang singkat. Wanita menyadari bahwa mereka memerlukan lebih banyak ruang sebagai kemajuan kehamilan.
Reaksi Ibu/ istri pada kehamilan trimester tiga:
Lebih cemas akan kecanggungan fisik
Ketidaknyamanan
Persiapan persalinan
Sering mimpi kelainan letak, tidak dapat lahir, takut cacat
Pada akhir kehamilan terangsang secara tiba-tiba
Perubahan psikologis pada Ayah
Expectant fathers (harapan ayah) menunjukkan persamaan perasaan dan konflik dengan ibu yang mengandung ketika kehamilan akan ditegaskan. Tingkat ambivalence tergantung beberapa faktor, seperti apakah kehamilan direncanakan, hubungan laki-laki dengan pasangannya, pengalaman kehamilan sebelumnya, umurnya, dan stabilitas ekonaminya.
Pada trimester tiga, perhatian dan ketakutan mungkin berulang. Banyak laki-laki merasa takut melukai bayi yang belum lahir selama intercourse. Ayah juga mulai takut dan membayangkan tentang apa yang akan terjadi dengan pasangannya dan bayinya yang belum lahir selama persalinan dan kelahiran.
Reaksi Ayah/ suami pada kehamilan trimester tiga:
Memilih alternative kontak seksual
Perhatian tertuju pada tanggung jawab financial
Melamun tentang anak, jadi apa, kehilangan istri
Merubah perilaku seksual dengan pasangannya
(Olds, 1995)
Kebutuhan pengetahuan bagi orang tua : pada kehamilan trimester ketiga dan kelahiran bayi
Perubahan fisik pada trimester tiga
Perubahan emosional pada trimester tiga dan periade post partum
Sexuality
Perubahan kebutuhan
Sexual expression (cara yang berbeda)
Sexual concerns
Problem solving
Ketidaknyamanan ringan kehamilan
Frequency unnation
Sakit punggung
Dyspnea
Varicose veins
Kontraksi Braxton Hicks
Kram kaki
Vaginal discharge
Konstipasi
Nyeri di sekitar tulang
Fatigue
Tanda bahaya
Perdarahan vagina
Nyeri perut
Edema pada muka, tangan dan kaki
Sakit kepala yang hebat
Gangguan bicara
Rupture of membrane (sebelum 38 minggu)
Nutrisi
General hygiene
Istirahat dan tidur
Latihan
Penggunaan obat
Rokok
Alcohol
Obat OTC
Resep obat
Pertumbuhan janin
Persiapan menyusui
Support system
Persiapan kelahiran bayi
Rasa takut dan cemas
Keterlibatan ayah dalam kelahiran bayi
Pemilihan masalah
Anatomi dan fisiologi kelahiran bayi
Manajemen nyeri
Intervensi obstetri
persiapan menjadi orang tua
Perubahan gaya hidup
Perubahan peran
Konflik peran
Keseimbangan tuntutan keluarga
Tugas perkembangan maternal
Persiapan untuk bayi baru lahir
Rencana keluarga
(Reeder, 1992)
Reaksi kognitif dan emosianal ibu pada kehamilan trimester tiga
Pemulihan ketidaknyamanan fisik
Fatigue, beban yang berat, frekuensi, sleeplessness, kekakuan
Pengembangan ukuran psychososial
Kebanyakan perubahan gambaran diri terjadi pada trimester tiga; perasaan kejanggalan dan kekakuan
Peningkatan perhatian pada dirinya sendiri
Peningkatan perhatian
Ketakutan diri untuk mendapatkan kesehatan dan “performance” selama persalinan
Ketakutan pada kesehatan bayi
Pemikirkan penerimaan peran sebagai ibu
Membayangkan situasi sebagai orang tua
Obsesi persalinan dan kelahiran, keinginan kehamilan yang berlebihan
Peningkatan nesting behavior
(Reeder, 1992)
Komplikasi kehamilan trimester tiga (28-40 minggu)
Persalinan prematuritas
Persalinan prematuritas (premature) dimaksudkan dengan persalinan yang terjadi diantara umur kehamilan 29-36 minggu, dengan berat badan lahir kurang dari 2,5 kg. persalinan prematuritas merupakan masalah besar karena berat janin kurang dari 2,5 kg dan umur kurang dari 36 minggu, maka alat-alat vital belum sempurna. Sebab persalinan prematuritas :
Hamil dengan perdarahan, kehamilan ganda
Kehamilan disertai komplikasi (pre eklamsia, eklamsia)
Kehamilan dengan komplikasi penyakit ibu (hipertensi, penyakit ginjal atau penyakit jantung, dsb). Keadaan gizi yang rendah disertai kurang darah, lapisan dalam lahir yang kurang subur karena jarak hamil terlalu pendek
Kehamilan ganda (kembar)
Beberapa pengaruh yang merugikan ibu yang hamil ganda:
Pengaruh hamil ganda terhadap ibu : diperlukan gizi yang lebih banyak, sehingga tumbuh kembang janin mencapai cukup bulan, pada hamil muda sering terjadi keluhan yang lebih hebat, ibu sering cepat lelah, sering terjadi penyulit hamil (hidramnion, pre eklamsia, dan eklamsia), pada saat persalinan dijumpai kesulitan
Pengaruh hamil ganda terhadap janin : dapat terjadi persalinan prematuritas, dapat terjadi janin dengan anemia atau BBLR, setelah persalinan anak pertama dapat terjadi pelepasan plasenta sebelum waktunya dan membahayakan janin kedua
Kehamilan dengan perdarahan
Perdarahan pada kehamilan memberikan dampak yang membahayakan ibu dan janin dalam kandungan. Perdarahan yang dapat membahayakan dan berhubungan dengan kehamilan pada trimester ke tiga adalah mengalami perdarahan plasenta previa, perdarahan solusio plasenta, perdarahan dari pecahnya sinus marginalis dan perdarahan dari pecahnya vasa previa.
Kehamilan dengan ketuban pecah dini
Pecahnya selaput janin memberikan pertanda bahaya dan memberi kesempatan infeksi langsung pada janin. Disamping itu gerak janin makin terbatas, sehingga pada kehamilan kecil mungkin dapat terjadi deformitas. Oleh karena itu bila berhadapan dengan kehamilan dengan mengeluarkan air apalagi belum cukup bulan harus segera datang ke rumah sakit dengan fasilitas yang memadai.
Kehamilan dengan kematian janin dalam rahim
Penyebab kematian jani dalam rahim :
Kehamilan di atas umur hamil 36 minggu pada ibu dengan diabetes mellitus
Mungkin terjadi lilitan tali pusat yang mematikan
Terjadi symbol tali pusat
Gangguan nutrisi menjelang kehamilan cukup bulan
Kehamilan dengan perdarahan
Kehamilan lewat waktu lebih dari 14 hari
Kehamilan lewat waktu persalinan (Senotinus)
Beberapa kerugian dan bahaya kehamilan lewat waktu :
Janin yang kekurangan nutrisi dan oksigen, akan mengalami pengrusakan diri sendiri, dengan metabolisme jaringan lemak bawah kulit sehingga tampak tua dan keriput, sebagai gejala janin dengan hamil lewat waktu
Air ketuban yang makin kental, akan sulit dibersihkan sehingga dapat menimbulkan gangguan pernafasan saat kelahirannya
Bila gangguan terlalu lama dan berat, janin dapat meninggal dalam rahim
Mungkin plasenta cukup baik tumbuh kembangnya sehingga dapat memberikan nutrisi cukup dan janin menjadi besar
Dengan makin besarnya janin dalam rahim memerlukan tindakan operasi persalinan
Kerugian pada ibu tidak terlalu besar, kecuali kemungkinan persalinan dengan tindakan operasi seperti induksi persalinan sampai dengan sesio sesaria
Kehamilan dengan pre-eklamsia dan eklamsia
Gejala klinik pre eklamsia ringan :
Tekanan darah sekitar 140/90 atau kenaikan tekanan darah 30 mmHg untuk sistolik 15 mmHg untuk diastolic dengan interval pengukuran selama 6 jam
Terdapat pengeluaran protein dalam urine 0,3 gr/liter atau kualitatif +1-+2
Edema (bengkak kaki, tangan atau lainnya)
Kelainan berat badan lebih dari 1 kg/minggu
Gejala pre eklamsi berat ( kelanjutan pre eklamsia ringan) :
Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih
Pengeluaran protein dalam urine lebih dari 5 gr/24 jam
Terjadi penurunan produksi urine kurang dari 400 cc/24 jam
Terdapat edema paru dan sianosis dan terasa sesak nafas
Terdapat gejala subjektif (sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri di daerah perut atas)
(Manuaba, 1999)
Pengkajian biophysical fetus
Ultrasonografi digunakan pada trimester pertama, kedua, dan ketiga
Trimester pertama
Penentuan tanggal dan penegasan kehamilan
Deteksi IUD
Diagnosis kehamilan ektopik
Diagnosis multiple gestation
Pengkajian lokasi plasenta
Trimester kedua dan ketiga
Pengkajian plasenta
Pengkajian struktur tubuh fetus
Pengkajian pertumbuhan fetus
Visualization of fetus, plasenta dan amniotic cavity selama amniosintesis
Pengkajian posisi dan presentasi fetus
Diagnosa kelangsungan hidup fetus
Biophysical profile score
(Dickason, 1997)


CONTOH KASUS V DAN ASUHAN KEPERAWATANNYA

Klien Ny. W 34 th. Datang ke poliklinik kandungan tanggal 3 Agustus 2005. status obstetric G1 P0 A0, trimester III. Keluhan utama saat datang klien merasa tidak nyaman dengan bertambahnya usia kehamilan. Klien menarche usia 15 th, lama haid 1 minggu, teratur tiap 28 hari. HPHT 15 Desember 2004 dan HPL 22 September 2005. TB 146 cm, BB 55 kg, TD 120/70 mmHg, N 84 x/mnt, dan T 36,9°C. dari pemeriksaan Leopold didapatkan data TFU 4 jari dibawah px, presentasi kepala, puki, konvergen. Klien menyatakan mulai kehamilan klien merasa malas melakukan pekerjaan rumah, mungkin karena bawaan bayi. Klien juga menyatakan pegal di daerah punggung belakang, kaki bila berdiri atau berjalan terlalu lama. Klien bertanya bagaimana nanti dengan persalinannya karena ini pengalaman pertama. Klien juga tinggal sendiri dengan suami sehingga tidak ada tempat untuk bertanya. Klien berkemih dalam sehari lebih 10 kali., setiap kali BAK sekitar 100 cc tetapi terasa seperti akan BAK banyak. Ini sering membuat klien terbangun malam hingga tidur terganggu, dalam sehari klien minum sekitar 6 gelas air putih, tetapi terkadang klien mengurangi minumnya supaya tidak berkemih sering.
Setelah dilakukan intervensi, klien kini mengerti bagaimana cara mengejan yang baik nanti, memahami perubahan-perubahan yang terjadi. Klien menyatakan akan segera datang ke RS bila mulai terasa mulas-mulas, keluar lendir, atau air ketuban, juga bila keluar darah. Klien merasa puas dengan penjelasan anda, klien mengangguk-angguk tanda mengerti. Klien mengerti mengapa kini ia sering berkemih, klien juga akan berusaha untuk mempertahankan minumnya 6 gelas sehari, dengan membatasi minum sekitar 1-2 jam sebelum tidur agar tidak sering bangun malam. Klien akan menggunakan sandal tidak berhak untuk mengurangi pegal di kaki. Dan akan beristirahat bila lelah.
Pengkajian
Identitas pasien
Nama : Ny. W
Umur : 34 tahun
Keluhan utama
Ny. W merasa tidak nyaman dengan bertambahnya usia kehamilan
Ny. W merasa malas melakukan pekerjaan rumah
Ny. W menyatakan pegal di daerah punggung belakang, kaki bila berdiri atau berjalan terlalu lama
Ny. W mengatakan dalam sehari berkemih 10 kali, tiap BAK sekitar 100 cc tetapi terasa seperti akan BAK banyak, hal ini membuat terbangun malam hingga tidur terganggu
Ny. W dalam sehari minum sekitar 6 gelas air putih, tetapi kadang klien mengurangi minumnya supaya tidak berkemih sering
Riwayat obstetric
Riwayat haid
Menarche : 15 tahun
Siklus : 28 hari
Durasi : 1 minggu
Riwayat kehamilan sekarang
Kehamilan ke : I
HPHT : 15 Desember 2004
HPL : 22 September 2005
Pemeriksaan umum
Tinggi badan : 146 cm
Berat badan : 55 kg
TTV : TD 120/70 mmHg, N 84x/mnt, RR 24 x/mnt, dan T 36,9°C
Pemeriksaan khusus (obstetric)
Leopold I : Tinggi fundus uteri 4 jari di bawah prosesus xipoideus
Leopold II : Teraba memanjang keras seperti papan pada perut jari (puki)
Leopold III : Presentasi kepala
Leopold IV : Konvergen.
Analisa Data
No
Data
Masalah keperawatan
1.
2.
.
3.
DS:
Klien merasa tidak nyaman dengan bertambahnya usia kehamilan
Klien menyatakan pegal di daerah punggung belakang, kaki bila berdiri atau berjalan terlalu lama
DO:
TD: 120/70 mmHg
N: 84 x/mnt
RR: 24 x/mnt
T: 36,9°C
DS:
Klien mengatakan dalam sehari berkemih 10 kali
Tiap BAK sekitar 100 cc tetapi terasa seperti akan BAK banyak. Ini sering membuat klien terbangun malam hingga tidur terganggu
Dalam sehari klien minum sekitar 6 gelas air putih, tetapi kadang klien mengurangi minumnya supaya tidak berkemih sering
DS:
Klien mengatakan bahwa dia tinggal sendiri dengan suami sehingga tidak ada tempat untuk bertanya
DO:
Klien bertanya bagaimana nanti dengan persalinannya karena ini pengalaman pertama
Ketidaknyamanan
Perubahan pola eliminasi
Kurang pengetahuan
Diagnosa Keperawatan
Ketidaknyamanan berhubungan dengan perubahan fisik
Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan pembesaran uterus dan peningkatan tekanan abdomen
Kurang pengetahuan mengenai persiapan untuk persalinan berhubungan dengan kurang pemahaman tentang perubahan fisiologis/ psikologis yang normal
Implementasi dan evaluasi
No-Dx
Tanggal
Implementasi
Evaluasi
Ttd
1.
2.
3.
3Agustus2005
3Agustus2005
3Agustus2005
Mengkaji dan mengatasi ketidaknyaman klien
Memperhatikan adanya keluhan ketegangan
Mengkaji keluhan frekuensi BAK dan tekanan kandung pada kemih
Menganjurkan klien untuk menggunakan sandal tidak berhak
Memberikan informasi tentang perubahan perkemihan
Menganjurkan klien untuk mempertahankan minumnya 6 gelas sehari
Memperhatikan keluhan-keluhan nokturia
Memberikan informasi tentang perubahan fisik
Memberikan informasi tentang tanda-tanda awitan persalinan
Mengidentifikasi tanda bahaya kehamilan
S:
Klien memahami perubahan-perubahan yang terjadi
Klien akan menggunakan sandal tidak berhak untuk mengurangi pegal dan akan beristirahat bila lelah
O:
Klien menganguk-angguk tanda mengerti
Klien tampak rileks
A:
Ketidaknyamanan dapat diminimalkan
P:
Ulangi intervensi yang telah dilakukan
Ulangi pengukuran TTV setiap 24 jam
Evaluasi derajad ketidaknyamanan
Ajarkan teknik relaksasi
S:
Klien mengerti mengapa kini ia sering berkemih
Klien akan berusaha mempertahankan minumnya 6 gelas sehari, dengan membatasi minum sekitar 1-2 jam sebelum tidur agar tidak sering bangun malam
O:
Klien tampak mengangguk-angguk tanda mengerti
Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
A:
Ketidaknyamanan karena sering berkemih dapat teratasi
Klien tidak bangun pada malam hari
P:
Ulangi pengukuran TTV setiap 24 jam
Tinjau ulang perubahan fisiologis yang mempengaruhi frekuensi berkemih
anjurkan untuk mempraktikkan latihan kegel (pengencangan perineum) sepanjang hari
Kaji terhadap tanda-tanda dan gejala ISK
S:
Klien menyatakan akan segera ke RS bila mulai terasa mulas, keluar lendir, atau air ketuban, juga bila keluar darah
O:
Klien menganguk-angguk tanda mengerti dan puas dengan penjelasan yang di berikan
Klien meminta informasi tentang persalinannya
A:
Kurangnya pengetahuan, sebagian telah dapat diatasi dibuktikan dengan klien akan segera kerumah sakit bila ada tanda awitan persalinan
P:
Ulangi intervensi yang telah dilakukan
Diskusikan tahap-tahap persalinan
Berikan informasi bagaimana cara mengejan yang baik
Lanjutkan program penyuluhan tentang perawatan bayi
DAFTAR PUSTAKA
Dickason, Elizabeth J. 1997. Maternal-Infant Nursing Care. St. Louis, Missouri: Mosby
Doenges, E, Marilynn. 2001. Rencana Perawatan Maternal Bayi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran: EGC
Farrer, Helen. 2001. Perawatan Maternitas. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran: EGC
Manuaba, Ida Bagus Gde. 1999. Memehami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta: Arcan
Olds, Sally B. 1995. Maternal-Newborn Nursing. California: Prentice Hall
Prawiroharjo, Sarwono. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Reeder, Sharon J. 1992. Maternity Nursing: Family, Newborn, and Women’s Health Care.USA: Lipponcott Company